<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatanfilm</title>
	<atom:link href="http://catatanfilm.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catatanfilm.com</link>
	<description>Catatanfilm</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Feb 2012 08:16:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Review: Extremely Loud and Incredibly Close (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/02/review-extremely-loud-and-incredibly-close-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/02/review-extremely-loud-and-incredibly-close-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 08:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak terkejut melihat Extremely Loud masuk nominasi Oscar dalam kategori Best Picture. Di adaptasi dari novel berjudul sama karya Jonathan Safran Foer yang dirilis perdana pada tahun 2005, Extremely Loud and Incredibly Close memang seringkali dianggap sebagai film yang mengungkit-ungkin tragedi 9/11. Tapi dalam sebuah kualitas film lupakan sebuah peristiwa ataupun tragedi, sekalipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tidak terkejut melihat Extremely Loud masuk nominasi Oscar dalam kategori Best Picture. Di adaptasi dari novel berjudul sama karya Jonathan Safran Foer yang dirilis perdana pada tahun 2005, Extremely Loud and Incredibly Close memang seringkali dianggap sebagai film yang mengungkit-ungkin tragedi 9/11. Tapi dalam sebuah kualitas film lupakan sebuah peristiwa ataupun tragedi, sekalipun tragedi atau peristiwa itu pahit sepahit-pahitnya. Bisa disimpulkan bahwa Extremely Loud and Incredibly Close adalah sebuah pandangan seorang anak terhadap tragedi 9/11 yang sudah merenggut nyawa ayahnya.<br />
<span id="more-292"></span><br />
Oskar Schell (Thomas Horn) yang telah kehilangan ayahnya (Tom Hanks) dalam tragedi 9/11. Sebelum meninggal ayah Oskar sering mengjak Oskar berburu harta karun. Belum lama pasca kepergian ayahnya, Oskar tanpa sengaja menemukan sebuah kunci yang terdapat di dalam sebuah vas di dalam lemari baju ayahnya. Yakin bahwa kunci tersebut adalah petunjuk untuk menemukan suatu peninggalan yang ditinggalkan sang ayah, Oskar mulai mencari sedikit demi sedikit petunjuk untuk mengungkap apa maksud dari kunci tersebut yang ditinggalkan oleh ayahnya di dalam tempat yang cukup tersembunyi.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/extremely2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Sejak awal, Extremely Loud and Incredibly Close memang tidak henti-hentinya membuat nuansa sedih yang mengatasnamakan kehilangan orang terkasih. Bagaimana tidak dari konsep yang disuguhkan saja Extremely Loud and Incredibly Close sudah jelas memiliki potensi yang ambisius untuk penontonnya menghabiskan lembaran tisu. Tidak terlalu buruk memang naskah yang ditulis oleh Eric Roth dan diadaptasi dari novel karya Jonathan Safran Foer. Tapi Extremely Loud and Incredibly Close ternyata justru tergolong melebih-lebihkan potensi yang ada hingga pada akhirnya nihil penonton bisa merasakan emosi dengan maksimal.<br />
<!--more--><br />
Sedangkan dari jajaran departmen akting Thomas Horn yang berperan sebagai Oskar berhasil membuat debut dalam film yang sempurna, bahkan melebihi kualitas akting dari bintang-bintang ternama seperti Tom Hanks, Sandra Bullock, ataupun calon Best Actress kita tahun ini, Viola Davis. Meski tergolong melebih-lebihkan tapi akting natural dari Max von Sydow perlu diacungi jempol. Apalagi jika melihat Horn dan Sydow tampil satu screen, semua sampahan dari penyampaian Daldry yang &#8216;lebay&#8217; bisa hilang.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/extremely3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Jika saya disuruh memilih layak atau tidaknya Extremely Loud and Incredibly Close masuk kedalam nominasi Best Picture, dari lubuk hati yang terdalam saya beranggapan tidak. Ya, jika hanya mengandalkan akting dari Horn dan Sydow saya rasa Extremely Loud and Incredibly Close hanya layak masuk awarding-awarding kelas B, bukan di kelas utama seperti Oscar. Teknis yang tidak layak di sejajarkan dengan Hollywood membuat Extremely Loud and Incredibly Close semakin pas jika dikatakan sebuah film arthouse yang gagal.<br />
<!--more--><br />
Ya, usaha yang terlalu keras ingin membuat penontonnya tersentuh digabungkan dengan divisi teknis yang biasa-biasa saja, wajar jika banyak yang kaget melihat Extremely Loud and Incredibly Close bisa masuk nominasi Best Picture Oscar. Seandainya Daldry bisa lebih maksimal meng-eksekusi Extremely Loud and Incredibly Close, mungkin film ini bisa tampil dengan jauh lebih memuaskan, juga memaksimalkan potensi teknis yang sudah jadi keharusan sebuah film berkualitas memiliki tim teknis yang berkualitas juga.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/3.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/02/review-extremely-loud-and-incredibly-close-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: #republiktwitter (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/02/review-republiktwitter-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/02/review-republiktwitter-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 03:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Ya, bila David Fincher dengan film bertema facebooknya yang berjudul The Social Network kini Indonesia sukses menggebrak dengan film bertema situs micro-blogging yang sedang populer saat ini, Twitter. Saat ini Twitter memang sedang booming, bahkan bagi anak muda jaman sekarang tiada hari tanpa nge-tweet. Melihat peluang tersebut Kuntz Agus selaku sutradara memang sangat tepat meluncurkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, bila David Fincher dengan film bertema facebooknya yang berjudul <em>The Social Network</em> kini Indonesia sukses menggebrak dengan film bertema situs micro-blogging yang sedang populer saat ini, Twitter. Saat ini Twitter memang sedang booming, bahkan bagi anak muda jaman sekarang tiada hari tanpa nge-tweet. Melihat peluang tersebut Kuntz Agus selaku sutradara memang sangat tepat meluncurkan <em>#republiktwitter</em> terlebih jika melihat deretan <em>cast</em> yang mengisi, seperti Abimana Arya, Laura Basuki, dan Tio Pakusodewo. Jelas semakin meningkatkan ekspektasi kita terhadap film bertema Twitter pertama di dunia ini.<br />
<span id="more-281"></span><br />
Naskah yang ditulis oleh ES Ito, sebetulnya simpel. Menampung semua kejadian yang biasa kita lihat di <em>TwitterLand</em> kedalam bentuk film. Mulai dari pencitraan hingga kopdar atau kopi darat. Di Twitter, Sukmo (Abimana Aryasetya) adalah seorang cowok yang asik, cerdas dan penuh kepercayaan diri. Dia tampak ganteng di timeline twitter, membuat Sukmo mudah berkenalan dengan siapa saja, termasuk Hanum (Laura Basuki) seorang wartawati cantik dan mapan. Hubungan keduanya yang semakin dekat, membuat Sukmo yang tinggal di Jogja memutuskan untuk menemui Hanum demi sebuah komitmen ke Jakarta. Ternyata Sukmo berhadapan dengan kenyataan bahwa di dunia nyata semuanya tidak mudah. Kepercayaan dirinya runtuh ketika melihat sosok Hanum yang benar-benar cantik dan elegan, berbeda dengan dirinya yang hanya ganteng di timeline. Menunda pertemuannya dengan Hanum, Sukmo bertekad mengubah dirinya menjadi “cowok” Jakarta. Bekerja di warnet milik Belo yang disebutnya sebagai kantor konsultan komunikasi, Sukmo berusaha menjadi laki-laki yang dipikirnya pantas mendampingi Hanum<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/republiktwitter2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Cerdas adalah kata yang tepat untuk <em>#republiktwitter</em>, secara komersil bahkan saya sudah yakin film ini akan menjadi salah satu film Indonesia dengan penonton terbanyak di tahun 2012 ini. Tapi secara kualitas.. Ya.. Tidak terlalu baik dan tidak terlalu buruk. Tapi bagi kita yang setiap hari selalu membuka Twitter pasti sudah tidak asing lagi dengan naskah yang disuguhkan. Naskahnya begitu mudah dicintai dan dinikmati, Ya, kesimpulannya <em>#republiktwitter</em> memang bukan tipikal film serius. Memang asyik menonton film yang adegannya bagaikan potongan mozaik kehidupan kita sehari-hari. Diluar penyampaian ceritanya, <em>#RepublikTwitter</em> sudah cukup sukses membuat penonton duduk memperhatikan adegan demi adegan selama 100 menit lebih.<br />
<!--more--><br />
Abimana Arya yang sebelumnya sudah menunjukan kualitas aktingnya di <em>Catatan Harian si Boy</em> kini dengan karakter yang berbeda Abimana kembali diuji kemampuan aktingnya, berduet dengan Laurda Basuki dan Tio Pakusodewo memang tidak mudah, tapi Abimana yang tergolong bintang <em>rising star</em> bisa menandingi bahkan melebihi akting keduanya. Sama layaknya di <em>Catatan Harian si Boy</em> karakter Andi yang diperankannya bisa menyamai karakter utama yang diperankan Ario Bayu, dan yang terpenting adalah Abimana bisa menghidupkan cerita. Begitu juga di <em>#republiktwitter</em>, Abimana senantiasa bisa berakting dengan natural hingga berimbas pada emosi yang terus terjaga sepanjang film. Ya, kini saya akan selalu menunggu film-film terbaru dari Abimana Arya #bukanpostberbayar<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/republiktwitter3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Sayangnya, <em>#republiktwitter</em>, masih sangat minim di penyampaian cerita, meski tergolong ringan tapi banyaknya apa yang ingin disampaikan membuat terkadang cerita <em>#republiktwitter</em> terasa berbelit, padahal seandainya Kuntz Agus bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak, mungkin <em>#republiktwitter</em> bisa tampil dengan jauh lebih <em>fun<em></em>. Ya, <em>overall</em> <em>#republiktwitter</em> tidak mengecewakan saya. Naskah yang cukup baik meski penyampaiannya kurang bisa terobati dengan akting maksimal dari seluruh pengisi departmen akting. Dan jangan lupakan scoring dan soundtrack yang semakin menghidupkan dan mendramatisasi suasana.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/35.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/02/review-republiktwitter-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: The Girl With the Dragon Tattoo (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/02/review-the-girl-with-the-dragoon-tattoo-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/02/review-the-girl-with-the-dragoon-tattoo-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 10:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bisa dipastikan bukan, bahwa David Fincher adalah salah satu sutradara yang mengerti selera penontonnya. Bukan hanya sebagai hiburan, sebagian besar film-film Fincher juga tergolong memorable. Ya, tak bisa dipungkiri itu terjadi karena hampir disetiap filmnya lah Fincher selalu menyelipkan ciri khas yang tiada tara, mungkin dengan keindahan sinematografi ataupun dialog yang sering kali membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah bisa dipastikan bukan, bahwa David Fincher adalah salah satu sutradara yang mengerti selera penontonnya. Bukan hanya sebagai hiburan, sebagian besar film-film Fincher juga tergolong <em>memorable</em>. Ya, tak bisa dipungkiri itu terjadi karena hampir disetiap filmnya lah Fincher selalu menyelipkan ciri khas yang tiada tara, mungkin dengan keindahan sinematografi ataupun dialog yang sering kali membuat kita terpukau, atau mungkin dengan sebuat <em>twist</em> yang membuat penontonnya terperangah. Itulah Fincher sutradara yang selalu dicintai kritikus maupun para pecinta film. Tak bisa begitu saja disamakan dengan sutradara-sutradara komersil. Karena memang faktanya film-film Fincher memang bukan tipikal yang murni mementingkan kegiatan komersil namun jauh lebih mementingkan unsur atau aspek teknis didalamnya.<br />
<span id="more-268"></span><br />
Naskah karya Steven Zaillian yang juga diadaptasi dari novel karya Stieg Larsson berjudul sama ini bercerita tentang kisah seorang Mikael Blomkvist (Daniel Craig), seorang jurnalis majalah Millenium tersandung kasus pencemaran nama baik . Dan tiba-tiba Henrik Vanger (Christopher Plummer) pimpinan perusahaan terkemuka Vanger Industries meminta Mikael untuk memecahkan kasus hilangnya keponakannya, Harriet, yang telah menghilang tanpa jejak selama hampir 40 tahun, dengan imbalan uang berlimpah serta sesuatu yang mampu membersihkan nama Mikael dari kasus yang menimpanya. Karena merasa cukup kesulitan dengan kasusnya akhirnya Mikael pun men-duetkan dirinya dengan Lisbeth Salander (Rooney Mara), seorang hacker yang memang sudah malang melintang di beberapa kasus.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/girltatoo.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Tak usah bicara banyak bagi kalian yang sudah melihat versi sebelumnya, yakni versi sutradara Niels Arden Oplev. Pasti sudah tidak asing dengan jalan cerita di <em>Girl with Dragoon Tattoo</em> versi Fincher ini. Ya, semua kejutan dan inti cerita memang sama, yang berbeda hanyalah penyampaian dari masing-masing sutradara dan aspek teknis yang disuguhkan. Secara kualitas pada dasarnya kedua versi memang sama-sama memiliki daya tarik. Tapi sudah jelas, versi Fincher merupakan versi yang jauh lebih mapan. Ditambah dengan pemilihan <em>cast</em> yang tepat. Fincher mampu menggantikan nama Noomi Rapace yang sebelumnya memang sudah melekat dengan karakter Lisbeth Salander dengan Rooney Mara. Seorang wanita yang sempat hadir di pembukaan film adaptasi dari perusahaan social media terkenal facebook, The Social Network sebagai Erica Albright, wanita pujaan Mark Zuckerberg.<br />
<!--more--><br />
Ya, selain mampu menempatkan Daniel Craig dan Rooney Mara ke karakter ya tepat, Fincher juga mampu memaksimalkan aspek teknis. Dari mulai sinematografi, editing, scoring Fincher hampir selalu bisa memaksimalkannya. Dan jangan lupa ciri khas dari film-film Finhcer, yap.. <em>Girl with the Dragoon Tattoo</em> juga masih dibalut dengan gaya elegan dan berkelas. Membuktikan bahwa dirinya tidak hanya sekedar mengadaptasi film dari novel terkenal. Jika melihat kesuksesan <em>Girl with Dragoon Tattoo</em> di versi sebelumnya wajar apabila kita berekspektasi tinggi terhadap versi Fincher, terlebih melihat nama Steven Zaillian ada dinama penulis naskah. <em>Well</em>, Sepanjang 158 menit, Fincher memang sangat cerdas memanfaatkan setiap momen yang ada, nyaris tidak ada celah untuk penonton merasa bosan.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/girltattoo2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
<em>Girl with the Dragon Tattoo</em> versi Fincher juga bukanlah sekedar <em>popcorn movie</em>, <em>Girl with the Dragon Tattoo</em>, juga tetap menunjukan bahwa <em>Hollyood</em> punya kelas. Kita bisa menikmati balutan sinematografi indah dengan tatanan editing dan penempatan scoring yang jenius, sepanjang film! Sama seperti pendahulunya, versi Fincher ini juga tidak lepas dari adegan-adegan beraninya. Ya, <em>Girl with Dragon Tatoo</em> memang film ber-rating R, tapi sekarang sudah bukan zamannya lagi membedakan film dari ratingnya, <em>Girl with Dragon Tattoo</em> jelas menggunakan adegan-adegan &#8216;<em>extreme</em>&#8216; demi variasi cerita. Hal ini memang sudah bukan hal asing lagi jika kita melihat banyaknya film <em>art-house</em> yang menggunakan strategi ini.<br />
<!--more--><br />
Naskah brilian, teknis mumpuni, ya, Fincher memang tidak pernah lepas dari pujian kritikus dan penggemar film. Memainkan emosi dengan dua karakter utama yang bermain hebat, Daniel Craig dan Rooney Mara. Emosi yang terus terjaga sepanjang 158 juga jadi nilai plus tersendiri untuk Fincher, ya, efeknya penonton memang sama sekali tidak diberi celah untuk merasa bosan. Memang tidak berbeda dari versi pendahulunya, sama-sama tidak membuat bosan, sama-sama melibatkan adegan-adegan berani demi memaksimalkan cerita. Tapi versi Fincher jelas lebih punya kualitas yang jauh lebih mumpuni. Fincher mampu mengubah Rooney Mara menjadi seorang gadis hacker yang eksentrik dengan nyari sempurna. Dan meski <em>Girl with Dragon Tattoo</em> sudah pernah diadaptasi kedalam bentuk film sebelumnya, tapi Fincher tetap mampu membuat <em>Girl with Dragon Tattoo</em> versi dirinya tampil dengan kejutan dan gejolak emosi.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/452.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/02/review-the-girl-with-the-dragoon-tattoo-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The 84th Annual Academy Award Winners Prediction</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/02/oscar-prediction/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/02/oscar-prediction/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 12:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[award]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Ya, berbekal sedikit pengetahuan dan analisa di award season tahun ini, saya akan coba memprediksi semua kategori yang ada. Dengan dilengkapi analisa di hanya beberapa kategori. Seperti yang kita ketahui tahun ini bisa dibilang adalah tahunnya si film bisu. Memang mengembalikan kita ke masa film belum se-modern sekarang ini tapi disisi lain justru membuktikan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, berbekal sedikit pengetahuan dan analisa di award season tahun ini, saya akan coba memprediksi semua kategori yang ada. Dengan dilengkapi analisa di hanya beberapa kategori. Seperti yang kita ketahui tahun ini bisa dibilang adalah tahunnya si film bisu. Memang mengembalikan kita ke masa film belum se-modern sekarang ini tapi disisi lain justru membuktikan bahwa film bisu masih bisa dicintai dan dinikmati. Hugo garapan sutradara peraih 1 piala Oscar, Martin Scoarsese diluar dugaan justru bisa melebihi perolehan nominasi The Artist, meski hanya selisih satu nominasi &#8211; Hugo: 11 The Artist: 10 -. Persaingan juga nampak di arena Best Actor, George Clooney yang sudah 4 kali mencicipi nominasi Oscar dan sekali meraih kemenangan harus bersaing ketat dengan aktor yang mendadak melejit namanya, bekat aktingnya dalam film bisu The Artist. Yup, langsung aja kita ke prediksi pemenang ajang penghargaan tahunan Oscar ke-84.<br />
<span id="more-224"></span><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Picture:</strong></span></p>
<blockquote><p>The Artist The Descendants, Extremely Loud &amp; Incredibly Close, The Help, Hugo, Midnight in Paris, Moneyball, The Tree of Life, War Horse</p></blockquote>
<p>Tak bisa dipungkiri, nama The Artist memang berada di puncak. Bahkan tergolong cukup jauh dari kontender lainnya. The Descendants yang sebelumnya di prediksi bakal menjadi saingan utama The Artist ternyata harus menciut namanya setelah mengakui keunggulan nominasi Hugo. Ya, semenjak namanya berhasil melambungkan 11 nominasi, Hugo memang cukup dijagokan di Oscar kali ini. Sedang nama-nama lain seperti The Help, Midnight in Paris, Moneyball ataupun The Tree of Life nampaknya harus merekalan kategori Best Picture harus menjauh dari mereka.<br />
<!--more--><br />
<strong>Will Win:</strong> The Artist | <strong>May Win:</strong> Hugo<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Actor in a Leading Role:</strong></span></p>
<blockquote><p>Demián Bichir, George Clooney, Jean Dujardin, Gary Oldman, Brad Pitt</p></blockquote>
<p>Sama saja seperti Best Picture, Best Actor juga hanya menawarkan perselisihan dari 2 aktor, jika di Best Picture, The Artist dan Hugo bersaing keras di Best Actor, Jean Dujardin (The Artist) harus bersaing dengan aktor yang bermain apik di The Descendants, George Clooney. Dan nama-nama lain seperti Oldman dan Pitt yang juga bermain apik di filmnya masing-masing nampaknya tertinggal jauh dari Dujardin dan Clooney.<br />
<!--more--><br />
<strong>Will Win:</strong> George Clooney | <strong>May Win:</strong> Jean Dujardin<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Actress in a Leading Role:</strong></span></p>
<blockquote><p>Glenn Close, Rooney Mara, Viola Davis, Meryl Streep, Michelle Williams</p></blockquote>
<p>Hanya dikategori ini menurut saya The Artist tidak bisa bicara banyak, dikepung oleh nama-nama besar seperti Viola Davis, Meryl Streep dan Michelle Williams memang bukanlah hal yang mudah. Terlebih melihat kesukesan Davis di Screen Guild Award dan Meryl &amp; Williams yang sukses di Golden Globes. Sedang Mara dan Close harus puas di posisi terbelakang, memang tidak tertinggal jauh melihat film yang mereka masing-masing bintangi cukup mendapat pujian. Tapi tetap saja, bersaing dengan nama seperti Davis, Streep dan Williams bukan hal yang mudah.<br />
<!--more--><br />
<strong>Will Win:</strong> Viola Davis | <strong>May Win:</strong> Michelle Williams<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Director</strong></span></p>
<blockquote><p>Woody Allen, Michel Hazanavicius, Terrence Malick, Alexander Payne, Martin Scorsese</p></blockquote>
<p>Sedikit pembuktian bahwa nama Scoarsese masih tetap eksis di dunia perfilman terbukti dengan terpilihnya dirinya yang menyutradarai Hugo sebagai sutradara terbaik dalam ajang Golden Globe. Tapi disisi lain yang sama kuat muncul nama Hazanavicius yang menyerobot nama Scoarsese dalam ajang Director Guild Award. Memang sedikit bingung menentukan siapa yang terbaik dalam kategori yang satu ini, Hazanavicius yang tergolong baru mampu menggebrak dengan The Artist-nya sedangkan Scoarsese sudah jelas dengan nama besar dan hasil karyanya beliau layak dianugerahkan sutradara terbaik.<br />
<!--more--><br />
<strong>Will Win:</strong> Michel Hazanavicius | <strong>May Win:</strong> Martin Scoarsese<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Writing – Original Screenplay</strong></span></p>
<blockquote><p>The Artist, Bridesmaids, Margin Call, Midnight in Paris, Jodaeiye Nader az Simin (A Separation)</p></blockquote>
<p>Hasil film yang memuaskan jelas tidak lepas dari peran naskah atau skenario, namun belum tentu film yang memiliki naskah baik akan berakhir baik juga, jelas akhir dari film tergantung dari bagaimana sutradara memaksimalkan semua divisi. Ya, semua kontender memang memiliki naskah yang sama baiknya, kita tidak sedang berbicara bagaiaman skenario atau naskah itu disampaikan melainkan hanyalah bagaiaman kualitas naskah tersebut. Meski A Separation, The Artist, dan Bridesmaids sama-sama memiliki naskah yang unik dan tidak biasa, tapi tetap saja untuk kategori ini tidak ada yang bisa menandingi keunikan Midnight in Paris garapan Woody Allen.<br />
<!--more--><br />
<strong>Will Win</strong> Midnight in Paris | <strong>May Win:</strong> The Artist<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Writing – Original Screenplay</strong></span></p>
<blockquote><p>The Descendants, Hugo, The Ides of March, Moneyball, Tinker Tailor Soldier Spy</p></blockquote>
<p>Tak bisa dipungkiri kategori naskah original ini memang bisa dibilang salah satu kategori yang cukup ketat persaingannya, cukup dengan pembuktian banyaknya film &#8216;bagus&#8217; di 2011 yang diadaptasi dari media yang sudah terpublikasi atau terproduksi sebelumnya saja itu sudah cukup. The Descendantants, Hugo, The Ides of March, Moneyball, maupun Tinker Tailor Soldier Spy sebelum nama-nama tersebut diangkat kedalam bentuk film, bentuk media yang sudah lebih dulu terpdoruksi seperti novel ataupun serial tv sudah tidak asing lagi sebelumnya. Namun kenyataannya elemen yang terkandung dalam naskah kelima nama diatas murni berbeda hanya The Ides of March dan Tinker Tailor Soldier Spy yang menurut saya punya sedikit kesamaan. Sisanya, sama-sama memperjuangkan elemen yang berbeda. Moneyball yang dengan kompelksnya bercerita tentang legenda bisbol harus bersaing keras dengan kisah seorang ayah mengurus kedua buah hatinya seorang diri dalam The Descendants.Ya, keduanya sama-sama memiliki peluang yang besar dalam kategori ini. Namun.. The Descendants ada selangkah lebih maju dibanding Moneyball.<br />
<!--more--><br />
<strong>Will Win:</strong> The Descendants | <strong>May Win:</strong> Moneyball<br />
<!--more--><br />
Dan untuk lebih lengkapnya lagi mengenai prediksi saya terhadap Oscar ke-84, langsung aja cek dibawah:<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Animated Feature</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Rango <strong>| May Win: </strong>Kung Fu Panda 2<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Foreign Language Film of the Year</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>A Separation (Iran) | <strong>May Win: </strong>In Darkness (Poland)<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Original Score</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>The Artist | <strong>May Win: </strong>War Horse<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Original Song</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>&#8220;Man or Muppet,&#8221; The Muppets | <strong>May Win</strong>: “Real in Rio”Rio<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Art Direction </strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Hugo  | <strong>May Win</strong>: The Artist<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Cinematography</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>The Tree of Life<strong> | <strong>May Win</strong>: </strong>The Artist<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Costume Design</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>The Artist  | <strong>May Win</strong>: Hugo<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Documentary Feature</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Paradise Lost 3: Purgatory  | <strong>May Win</strong>: Pina<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Documentary Short Subject</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Incident in New Baghdad  | <strong>May Win</strong>: The Tsunami and the Cherry Blossom<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Film Editing</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>The Artist  | <strong>May Win</strong>: Hugo<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Makeup</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>The Iron Lady  | <strong>May Win</strong>: Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Animated Short Film </strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>La Luna  | <strong>May Win</strong>: Wild Life<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Live Action Short Film </strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Pentecost  | <strong>May Win</strong>: Time Freak<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Sound Editing </strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Hugo  | <strong>May Win</strong>: Transformers: Dark of the Moon<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Sound Mixing </strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Hugo  | <strong>May Win</strong>: Transformers: Dark of the Moon<br />
<!--more--><br />
<span style="text-decoration: underline;"><strong>Best Achievement in Visual Effects</strong></span><br />
<strong>Will Win: </strong>Rise of the Planet of the Apes  | <strong>May Win</strong>: Hugo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/02/oscar-prediction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: Chronicle (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/02/review-chronicle-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/02/review-chronicle-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 11:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas premis yang disuguhkan Chronicle mengingatkan kita pada serial televisi bertema manusia-manusia berkekuatan super. Tapi faktanya Chronicle bukanlah film yang bercerita tentang sekumpulan manusia-manusia super. Justru sebaliknya Chronicle bercerita tentang 3 pemuda labil yang sedang asyik menikmati kekuatan super mereka. Chornicle juga bukan superhero ala Marvel maupun DC yang sudah terbiasa mengontrol kekuatan supernya. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekilas premis yang disuguhkan <em>Chronicle</em> mengingatkan kita pada serial televisi bertema manusia-manusia berkekuatan super. Tapi faktanya <em>Chronicle</em> bukanlah film yang bercerita tentang sekumpulan manusia-manusia super. Justru sebaliknya <em>Chronicle</em> bercerita tentang 3 pemuda labil yang sedang asyik menikmati kekuatan super mereka. <em>Chornicle</em> juga bukan <em>superhero</em> ala Marvel maupun DC yang sudah terbiasa mengontrol kekuatan supernya. Dengan bumbu khas kenakalan remaja dibalut <em>scene-scene</em> penuh efek visual dan tak lupa semakin nikmat menyaksikannya terlebih mengingat <em>Chronicle</em> merupakan film <em>mockumenter</em>.<br />
<span id="more-240"></span><br />
<em>Chronicle</em> yang berdasar dari kolaborasi naskah, Max Landis dan Josh Trank ini bercerita tentang ketidak sengajaan Andrew (Dane DeHaan), Matt (Alex Russell), dan Steve (Michael B. Jordan) yang menemukan sebuah batu bercahaya didalam lubang galian. Diluar dugaan ketidak sengajaan itu ternyata berbuntut menjadikan Andrew, Matt, dan Steve menjadi manusia yang tidak biasa. Semula mungkin mereka hanya bermain-main dengan kekuatan barunya itu. Tapi ternyata dengan adanya kekuatan-kekuatan ala <em>superhero</em> tersebut justru menguji persahabatan mereka. Menantang ketiga pemuda labil tersebut untuk tetap percaya satu sama lain.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/chronicle2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Sejauh ini memang jarang terdengar <em>mockumenter</em> yang berbau remaja, mungkin kalau <em>sci-fi</em> kita bisa mengingat <em>Cloverfield</em>. Lagipula <em>Chornicle</em> 65% menangandung elemen <em>sci-fi</em> kok. Hanya sedikit dikombinasikan dengan kegilaan remaja ala <em>American Pie</em>. Dengan 83 menit durasi yang relatif singkat untuk sebuah film drama namun relatif normal untuk ukuran film bergaya <em>mockumenter Chronicle</em> bisa dengan mudah memikat hati penontonnya, perlahan mengajak kita keakhir cerita. Cukup klasik melihat naskah yang disajikan duet Landis dan Trank. Sama sekali tidak ada yang spesial, baik dari cerita ataupun karakter. Namun hanya saja Trank yang juga duduk di bangku sutradara mampu memaksimalkan cerita dengan penemaptan adegan yang pas. Trank juga berhasil membuat penonton bosan selama film berlangsung meski mengingat ini adalah film bergaya <em>mockumenter</em>, sebuah gaya yang seringkali di cap membosankan dan memuakkan.<br />
<!--more--><br />
Meski tergolong lama memperkenalkan karakternya, faktanya <em>Chornicle</em> tetap mampu mempertahankan tensi cerita di paruh pertama film. Dengan candaan-candaan khas penonton akan dibuat menikmati pengenalan karakter ala Josh Trank. Sudah menghibur di paruh pertama tidak sama sekali membuat Trank mengendurkan tensi cerita, justru Trank menaikan tensi cerita dengan pengenalan masalah yang sesungghunya. Benar-benar menghibur mengingat bagaimana Trank mempertahankan kesenangan penonton meliihat adegan dengan suara menghibur yang disuguhkan.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/chronicle3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Ketiga aktor pendatang baru yang bermain pun tampil dengan maksimal, bermain layaknya bintang-bintang papan atas <em>Hollywood</em>. Ya, tanpa mereka kita tidak mungkin bisa menikmati <em>Chronicle</em> yang sehidup ini. Dengan permasalahan khas remaja yakni persahabatan, meski klise namun dengan bumbu konflik tersebut saya bisa menikmati sepenuhnya film ini. Mungkin memang inti cerita <em>Chronicle</em> tidak terlalu berat untuk dicerna. Ya, Trank memang jauh lebih mementingkan kepuasan penonton dibanding kepentingan komersil. Mungkin seandainya <em>Chronicle</em> tergolong film <em>high budge</em>t kita bisa jauh lebih merasakan efek lemparan dan ledakan yang ada dalam format 3D. Tapi faktanya <em>Chronicle</em> hanyalah film yang tergolong arthouse dengan budget tidak lebih dari 15 juta dollar.<br />
<!--more--><br />
Lengkap sudah melihat <em>Chronicle</em> hebat di naskah maupun spesial efek yang disuguhkan. Ya, naskah yang tergolong ringan dicerna serta dibumbui komedi yang juga ringan dan spesial efek yang tidak jor-joran namun bisa sedikit menghibur mata penontonnya. Sekilas jika kita membandingkan <em>Chornicle</em> dengan <em>Cloverfield</em> memang memiliki beberapa kesamaan. Ya, sama-sama film <em>mockumenter, </em>sama-sama film <em>sci-fi</em>, dan yang terpenting sama-sama mementingkan kualitas dan kepuasan penonton. Trank yang sekaligus memulai debutnya menyutradarai film ini memang tau betul bagaimana penonton bisa merasakan penuh apa yang akan ia ceritakan. Dengan kadar drama-action-komedi yang setimpal, <em>Chronicle</em> karya Josh Trank sudah berhasil membuat penontonnya terhibur penuh sekaligus membuktikan bahwa tidak semua <em>mockumenter</em> itu membosankan.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/4.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/02/review-chronicle-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: The Muppets (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/01/review-the-muppets-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/01/review-the-muppets-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 15:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak kenal Kermit The Frog, Ms. Piggy dan Frozie Bear. Ya, ketiganya merupakan anggota dari The Muppets. Sebuah perkumpulan untuk para pelakon sandiwara boneka yang awalnya terkenal dalam acara tv berjudul The Muppet. The Muppet sendiri sebetulnya sudah pernah di filmkan pada tahun 1979 oleh sutradara James Frawley dengan judul The Muppets Movie. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tidak kenal Kermit The Frog, Ms. Piggy dan Frozie Bear. Ya, ketiganya merupakan anggota dari <em>The Muppets</em>. Sebuah perkumpulan untuk para pelakon sandiwara boneka yang awalnya terkenal dalam acara tv berjudul <em>The Muppet</em>. <em>The Muppet </em>sendiri sebetulnya sudah pernah di filmkan pada tahun 1979 oleh sutradara James Frawley dengan judul <em>The Muppets Movie. </em>Memang sekilas tidak ada yang berbeda dengan <em>The Muppets</em> versi tv show, dengan <em>The Muppets</em> versi film tahun 1979 ataupun 2011. Bedanya mungkin jika kita lebih dulu berkenalan di acara tv kemudian sampai diklimaksnya menonton versi layar lebarnya. Melewati sebuah penantian panjang hingga akhirnya di 2011 kembali bertemu. Ya, ini adalah sebuah reuni. Sebuah ajakan reuni yang sudah pasti menyenangkan dari Kermit dan kawan-kawan.<br />
<span id="more-203"></span><br />
Naskah yang ditulis oleh Jason Segel dan Nicholas Stoller ini bercerita tentang, awal dari habisnya masa-masa sukses dari geng <em>The Muppets</em>. Para anggota <em>The Muppets</em> yang dulunya setiap malam berkumpul di theater kini berpencar entah kemana. Mereka mulai hidup dengan caranya masing-masing. Namun <em>The Muppets</em> tetaplah <em>The Muppets, </em>sebuah perkumpulan yang memiliki solidaritas tinggi. Ya, misi untuk menyelamatkan gedung thater tercinta yang terancam dirobohkan menuntut mereka untuk kembali bersatu seperti dulu. Dan dengan bantuan dua fans berat <em>The Muppets</em>, Gary (Jason Segel) dan Mary (Amy Adams), kekasihnya, perjuangan menuju babak baru <em>The Muppets</em>-pun dimulai, dengan kembali mempersatukan seluruh anggota yang kini sudah sibuk dengan urusannya masing-masing.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/muppets2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Sejak babak-babak awal film, <em>The Muppets</em> sudah mengajak kita terjun kedunia imajinasinya, dunia yang penuh dengan kesenangan yang dihiasi dengan nyanyian-nyanyian khas yang semakin memperkuat atmosfer kegembiraan. Baik tua ataupun muda, kunci menikmati <em>The Muppets</em> adalah lupakan sedikit logika dan biarkan pikiran kita bermain dalam imajinasi arahan James Bobin. Dengan banyolan yang terkadang diselipkan musik untuk memperkuat unsur musikal didalamnya, <em>The Muppets</em> sudah berhasil membuat penontonnya sejenak melupakan kepenatan dunia luar dan terpaku pada intrik dan konflik yang melanda Kermit dan kawan-kawan. Tidak terlalu mencolok dan pas porsinya, itulah hasil dari naskah arahan duo Segel dan Stoller, tetap mewariskan ciri khas dari <em>The Muppets</em> yang sudah sekian dekade tetap terjaga. Dialognya, nyanyiannya, <em>joke-</em>nya, semua masih terjaga.<br />
<!--more--><br />
Indahnya mengenang memori indah <em>The Muppets</em> memang tidak ada habisnya. Itu sebabnya jika kalian yang sudah merasa kanget banget sama <em>The Muppets</em>, ini adalah momen untuk bernostalgia yang tepat. Ya, <em>The Muppets</em> memang tidak bisa lepas dari nyanyian-nyanyiannya yang sudah jadi <em>trademark</em>. Bernyanyi ala Broadway dan bersenang-senang didalamnya. Parodi-parodi band-band besar Hollywood juga turut diikut sertakan hahah. Sebelum menonton filmnya <em>The Muppets</em> ini memang sudah memparodikan beberapa poster film seperti <em>The Girl with Dragon Tattoo</em>-nya David Fincher dan <em>Twilight Saga: Breaking Dawn</em>, dengan Miss. Piggy yang menirukan gaya Bella Swan. Itu semua memang bagian dari kegembiraan yang dibagi <em>The Muppets</em> sebelum menonton filmnya, dan itu belum ada apa-apanya jika kita menonton filmnya, masih ada banyak kebahagian yang akan dibagi <em>Muppets</em> geng sembari kita bernostalgia dan menikmati iringan musik arahan Christophe Beck.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/muppets3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
<em>The Muppets</em> tampil tidak terlalu rumit untuk ukuran anak-anak, juga tidak terlalu ringan untuk ukuran orang dewasa. Cerita yang dibawakan cukup <em>simple</em>. Ini hanyalah versi panjang dari episode-episode yang biasa mereka bawakan dalam acara televisi. Jason Segel dan Amy Adams disini pun tampil dengan penuh <em>chemistry</em>, mimik wajah dan bahasa tubuhnya yang senantiasa berkata bahwa senang adalah elemen terpenting dalam film ini membuat <em>The Muppets</em> tampil semakin lengkap. Porsi keduanya dengan para boneka-pun menurut saya pribadi tidak ada masalah, Bobin yang sekaligus memulai debutnya dalam menyutradarai film (panjang) ini berhasil menaruh kadar yang tepat, baik pada manusia maupun boneka.<br />
<!--more--><br />
Ya, secara pribadi saya benar-benar kangen dengan semua anggota <em>The Muppets</em>, meski tidak sepopuler <em>Sesame Street</em>, tapi tetap <em>The Muppets</em> memiliki peran yang cukup vital di era menjamurnya sandiwara boneka. Karakter-karakter yang sudah menjadi ciri khas dari <em>The Muppets</em> seperti Kermit dan Miss Piggy tetap dibawakan sesuai dengan karakter mereka aslinya, yang sudah tidak asing lagi dimasyarakat. <em>Overall</em>, <em>The Muppets</em> adalah salah satu momen terbaik jika kita ingin menyapa kembali aksi Kermit dan kawan-kawan. Sebuah media nostalgia tontonan klasik yang dikemas modern. Manha-manha!!<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/4.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/01/review-the-muppets-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: Bridesmaids (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/01/review-bridesmaids-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/01/review-bridesmaids-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 05:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Bridesmaids bisa dibilang adalah The Hangover versi wanita. Ya, komedi yang terkesan &#8216;nyeleneh&#8217; dan berani sepanjang film terus terasa, juga tatanan naskah yang boleh dibilang untuk ukurang komedi sudah cukup baik. Disutradarai oleh Paul Freig yang sebelumnya memang sudah cukup sukses dengan beberapa proyek serial televisi komedinya. Tidak terlambat untuk mengatakan Bridesmaids adalah salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bridesmaids</em> bisa dibilang adalah <em>The Hangover</em> versi wanita. Ya, komedi yang terkesan &#8216;nyeleneh&#8217; dan berani sepanjang film terus terasa, juga tatanan naskah yang boleh dibilang untuk ukurang komedi sudah cukup baik. Disutradarai oleh Paul Freig yang sebelumnya memang sudah cukup sukses dengan beberapa proyek serial televisi komedinya. Tidak terlambat untuk mengatakan <em>Bridesmaids</em> adalah salah satu film komedi terbaik tahun 2011 lalu. Menyuguhkan akting 6 wanita cantik dengan kepribadian dan latar belakang yang beda. Tapi dibalik keberbedaan itu Freig bisa menyulapnya menjadi sebuah guyonan yang tidak biasa dan mudah diingat.<br />
<span id="more-178"></span><br />
Annie Walker (Kristen Wiig) dituntut menjadi menjadi pengiring pengantin di pesta pernikahan sahabat karibnya, Lillian (Maya Rudolph) dan karena tuntutan ini jugalah Annie dipaksa berkenalan, dengan 4 pengiring lainnya, Helen Harris, Megan,  Rita, dan Becca (Rose Byrne, Melissa McCarthy, Wendi McLendon-Covey dan Ellie Kemper). Segala tuntutan itu terkadang membuat Annie frustasi, ditambah dengan sahabatnya, Lillian yang kian hari kian berubah menjauhi sifat aslinya. Annie sendiri terkadang masih belum bisa menerima sahabat yang sejak kecil sudah dikenalnya kini harus melepas masa lajangnya.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/bridesmaid2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Perpaduan drama dan komedi yang hebat, itulah <em>Bridesmaids</em>. Naskah yang ditulis oleh Kristen Wiig dan Annie Mumolo mampu berpadu dengan maksimal dengan seluruh <em>cast </em>yang ada. Wiig dan Mumolo memang tidak lantas melupakan elemen penting dalam film komedi yakni cerita, keduanya mampu menempatkan naskah <em>Bridesmaid</em> pada performa tertingginya. Terlihat dari bagaimana Wiig dan Mumolo menempatkan drama dibagian komedi ataupun sebaliknya, menempatkan komedi dibagian drama.<br />
<!--more--><br />
125 menit film ini berlangsung, dan dengan naskah yang cukup ideal untuk film bertipikal seperti ini, <em>Bridesmaid</em> justru tergolong kurang dapat menggali seluruh karakternya, sungguh amat disesali jika melihat potensi dari seluruh pengisi divisi akting. Bahkan hingga film berakhir sekalipun, penonton masih merasa sulit untuk mengenali karakter yang ada. Ya, Freig mungkin terlalu fokus pada inti cerita, sehingga melupakan para pemeran pembantu lain. Padahal disisi lain peran vital para pemeran pembantu ini sebenarnya jika dimaksimalkan akan semakin menonjolkan unsur <em>drama-comedy. </em>Blunder lainnya adalah disaat karakter lain tidak mengalami karakterisasi yang sepadan, Freig justru membuat satu karakter tampil begitu menonjol, ya, akting Melissa McCarthy disini sebagai Megan menurut saya terlalu berlebihan, mungkin seandainya porsi para pengiring pengantin lain setara dengan dirinya, Melissa bisa tampil tidak se-&#8217;<em>over&#8217; </em>ini.<em></em><br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/bridesmaid3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
<em>Well</em>, dibalik gagalnya karakterisasi, <em>Bridesmaids</em> tetap menyimpan kualitas pada departmen aktingnya. <em>Chemistry</em> antar karakter yang terus terjaga sepanjang film membuat 125 menit <em>Bridesmaids</em> tampil tidak membosankan. Dipenuhi aktris-aktris cantik, tidak lantas <em>Bridesmaids</em> melupakan pemeran prianya, masih ada Chris O&#8217;Dowd yang berperan sebagai polisi lalu lintas yang sekaligus menjadi <em>&#8216;</em>teman curhat&#8217; Annie. <em>Overall</em>, seluruh jajaran akting <em>Bridesmaid</em> memant tampil mengisi satu sama lain dengan <em>chemistry</em> yang begitu terjaga, kita akan disuguhkan 2 jam lebih balutan komedi dan drama yang tidak membosankan.<em></em><br />
<!--more--><br />
<em>Bridesmaids</em> memang sudah cukup berhasil mengocok perut penontonnya, tidak terlalu mengocok memang. Kadar drama dan komedi yang seimbang membuat tensi cerita <em>Bridesmaid</em> tetap terjaga. Dan kedua pemeran utama Kristen Wiig dan Maya Rudolph, bermain amat apik dan penuh kerja sama, mengatur dimensi antara komedi dan drama dengan balutan romansa persahabatan. <em>Bridesmaids</em> memang bukan kopian dari komedi laris <em>The Hangover</em>, tapi tidak salah jika menyetarakannya. Keduanya sama-sama memiliki potensi cerita yang mengesankan, penuh dengan keberanian dan tidak sungkan meluapkan naskah yang gila kedalam bentuk film.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/35.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/01/review-bridesmaids-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: Hugo (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/01/review-hugo-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/01/review-hugo-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 16:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Martin Scoarsese adalah sutradara yang identik dengan film-film berbau misteri dan thriller, juga terkenal dengan kerja samanya bersama Leonardo DiCaprio yang sudah terbukti sukses di beberapa film. Hugo adalah film yang diadaptasi dari buku berjudul &#8216;The Invention of Hugo Cabret&#8217; karya Brian Selznick yang sekaligus menjadi film pertama Scoarsese yang ber-genre Adventure-Family. Ya, apapun genre-nya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Martin Scoarsese adalah sutradara yang identik dengan film-film berbau misteri dan <em>thriller</em>, juga terkenal dengan kerja samanya bersama Leonardo DiCaprio yang sudah terbukti sukses di beberapa film. <em>Hugo </em>adalah film yang diadaptasi dari buku berjudul &#8216;The Invention of Hugo Cabret&#8217; karya Brian Selznick yang sekaligus menjadi film pertama Scoarsese yang ber-<em>genre Adventure-Family</em>. Ya, apapun <em>genre</em>-nya, apapun filmnya Scoarsese selalu bisa menyelipkan ciri khasnya di setiap film yang ia sutradarai. Sutradara yang begitu dicintai para kritikus ini masih tetap memikat mata penontonnya lewat keindah sinematografi yang sesekali dibalut <em>visual effect</em>, serta dibalik itu semua Scoarsese juga selalu mempunyai naskah dan cerita yang begitu cerdas nan jenius.<br />
<span id="more-153"></span><br />
Hugo Cabret (Asa Butterfield) adalah seorang yatim piatu, Hugo ditinggalkan ayah tercintanya sejak masih berusia dini. Hingga mulai beranjak remaja kini, Hugo masih merasa ada yang janggal dengan kepergian ayahnya. Bagaimana tidak, kabar yang tidak pernah jelas seputar kepergian ayahnya selalu mengampiri Hugo. Sebelum meninggal, ayah Hugo, meninggalkan beberapa barang yang jika dirangkai ternyata adalah sebuah petunjuk. Petunjuk perihal kemana ayah Hugo sebenarnya. Hugo yang kini bekerja sebagai pencuri bahkan hingga menjadi buronan di stasiun kota Paris secara tidak sengaja bertemu dengan Isabelle (Chloe Moretz). Hugo yang sebelumnya selalu tertutup dengan orang lain entah mengapa bisa terbuka dengan Isabelle. Dan ternyata dibalik kepercayaan Hugo terhadap Isabelle itu memang melatar-belakangi sesuatu. Ternyata Isabelle merupakan bagian dari teka-teki hilangnya ayah Hugo.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/hugo2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Sejak awal film saya sudah yakin bahwa <em>Hugo </em>adalah film yang epik. Membawa nuansa klasik Prancis sekitar era tahun 30an yang dibalut sinematografi apik berlapis <em>visual effect</em> megah yang semakin memanjakan pandangan. Memang untuk pengenalan konflik Hugo terbilang lambat. Bahkan hingga menit ke 30 penonton baru bisa mengerti sepenuhnya inti cerita. Tapi itu tidak jadi masalah, saya percaya bahwa Scoarsese adalah sutradara yang pandai dalam merangkai <em>plot</em>. Tidak peduli seberapa rumit cerita pada filmnya. Tapi faktanya cerita <em>Hugo</em> itu tidak serumit <em>Shutter Island</em>, <em>The Departed</em>, <em>Goodfellas</em>, ataupun<em> Mr. Taxi</em>. <em>Hugo</em> adalah murni sebuah film keluarga yang ringan. Pembawaan di setiap <em>frame </em>yang disuguhkan selalu bisa memikat penonton untuk tetap menyaksikan adegan demi adegan klasik &#8211; epik yang berbalut sinematografi cantik arahan sinematografer langganan Scoarsese dan Quentin Tarantino, Robert Richardson. Ya, di <em>Hugo </em>ini Richardson sukses melakukan pencitraan yang sepanjang film senantiasa melekat, yakni pencitraan bahwa <em>Hugo</em> adalah film yang dikemas klasik namun dibalut dengan sentuhan <em>visual effect</em> yang modern.<br />
<!--more--><br />
Ya, selain khas dengan <em>setting</em> klasiknya, <em>Hugo </em>juga tidak lepas dari dua pemeran utamanya, Asa Butterfield dan Chloe Moretz. Keduanya sama-sama memiliki kesamaan yang pasti. Yakni kualitas akting yang mumpuni. Asa dan Chloe berhasil menyatu dengan sempurna dengan <em>screenplay</em> garapan John Logan.  <em>Cast</em> lainnya pun turut serta membuat <em>Hugo </em>tampil lebih terisi. Meski tidak terlalu ditonjolkan tapi karakter-karakter seperti Inspektur Stasiun, yang hilir mudik berjaga, Georges Méliès yang dengan karakternya terlihat garang dan pemarah sangat penting untuk tetap menunjuang intensitas cerita dan terus memompa karakterisasi pada dua karakter utama.<em> Hugo</em> memang terlihat memiliki tim teknis yang mumpuni itu terbukti dari raihan 11 nominasi Oscar. Ini bukti bahwa hampir di segala aspek <em>Hugo</em> dikategorikan jawara. Dari mulai <em>screenplay</em> hingga <em>editing</em>. Dan dengan sentuhan <em>visual</em> 3D yang memukau serta kejeniusan Scoarsese meletakan plot dan memaksimalkan seluruh <em>cast</em>, <em>Hugo </em>memang layak dianugerahi 11 nominasi tersebut.<br />
<!--more--><br />
<img class="alignleft" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/hugo3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Film karya Scoarsese yang satu ini memang berbeda jika dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya, <em>Hugo</em> berhasil mengkombinasikan keindahan yang megah dari kota Paris yang diimporivasi menjadi sebuah kota klasik yang menawan dengan <em>visual effect</em> yang senantiasa membalut setiap adegannya. Itu semua adalah khas dari <em>Hugo</em>, ya <em>setting</em> plus sinematografi dan<em> visual effect</em> mampu berpadu dengan maksimal, menyatu dengan seluruh karkater yang ada. Sensasi 3D memang sudah jadi hal yang semestinya, semakin menandakan bahwa <em>Hugo</em> merupakan film keluarga yang epik yang tidak lantas merupakan arti penting dari cerita dan aspek teknis.<br />
<!--more--><br />
Sangat sulit untuk membenci <em>Hugo</em>, dengan <em>genre</em>-nya yang umum serta suguhan adegan demi adegan yang <em>eye-catchy</em> membua kita dengan mudahnya terpikat pada film peraih 11 nominasi Oscar ini. Hugo memang tidak memiliki celah yang memungkinkan <em>blunder</em> terjadi. Tapi dibalik itu semua, saya mengira bahwa <em>Hugo</em> adalah film yang mudah dilupakan. Ya, menurut saya, <em>Hugo </em>bukan sepenuhnya sebuah <em>masterpiece</em> karya Scoarsese. Satu-satunya yang perlu di apresiasi di film ini adalah Scoarsese itu sendiri, bukan tim teknisnya, jadi wajar jika banyak yang menebak bahwa perolehan 11 nominasi <em>Hugo </em>pada ajang Oscar ke-84 itu hanyalah sebuah bentuk &#8216;peramai&#8217; karena di satu sisi hampir semua divisi teknis <em>Hugo </em>tampil memukau, tapi disisi lain <em>Hugo </em>tampil mudah dilupakan. Ya, sama saja dengan beberapa film keluarga lainnya, dengan mudahnya kita dibuat terpikat oleh naskah yang tidak membosankan, namun beberapa minggu kemudian, sudah hilang dari ingatan. <em>Well..</em> sebagai hiburan keluarga <em>Hugo</em> adalah tontonan yang tidak boleh terlewat, sentuhan <em>visual effect</em> yang membahana, membalut sudut-sudut kota Paris yang dingin, menemani kita menuju sebuah petualangan yang epik akan menjadikannya ciri khas sepanjang film. <em>What a great Family-Adventure, Scoarsese</em>!<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/452.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/01/review-hugo-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: The Artist (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/01/review-the-artist-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/01/review-the-artist-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 12:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kalian yang setia mengikuti pergerakan award season tahun ini, pasti sudah tidak asing dengan film yang satu ini. Yap, The Artist, film bisu yang mendulang begitu banyak pujian dan penghargaan. Meski hanya menjual film yang hanya terdiri dari dua warna, plus audio yang hanya iringan musik besutan Ludovic Bource, The Artist tetap mampu bersaing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kalian yang setia mengikuti pergerakan <em>award season</em> tahun ini, pasti sudah tidak asing dengan film yang satu ini. Yap, <em>The Artist</em>, film bisu yang mendulang begitu banyak pujian dan penghargaan. Meski hanya menjual film yang hanya terdiri dari dua warna, plus audio yang hanya iringan musik besutan Ludovic Bource<em>, The Artist</em> tetap mampu bersaing dengan film-film berbudget besar. Sebuah kemunduran zaman yang luar biasa. Itulah kalimat yang dapat menjelaskan bagaimana <em>The Artist</em>, bagaimana tidak. Disaat berbagai <em>production house</em> sibuk mengerjakan proyek megah bernilai puluhan juta dollar, <em>The Artist</em> justru hadir dengan mengembalikan film ke esensinya semula yakni bercerita. Memang secara komersial <em>The Artist</em> bukanlah film yang bernilai, tapi secara seni, The Artist adalah sebuah masterpiece.<br />
<span id="more-131"></span><br />
George Valentin (Jean Dujardin) adalah seorang aktor film bisu yang sedang naik daun, hampir setiap film yang ia bintangi meraih kesuksesan. Tapi masalah hadir ketika publik sudah mulai meninggalkan film bisu dan beralih ke film yang bisa bicara. Disisi lain, hadir seorang bintang baru, seorang wanita yang tiba-tiba melonjak karirnya Peppy Miller (Bérénice Bejo). George yang tetap kekuh mempertahankan keindahan film bisu akhirnya mulai ditinggalkan. Berjuang membuat dan memproduksi film sendiri ternyata hanyalah sia-sia. Kini masyarakat jauh lebih mencitai film yang bisa berkomunikasi dengan penontonnya.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/theartist2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Sebagai film bisu, <em>The Artist</em> jelas dituntut untuk ekstra memperhatikan emosi serta pemahan penonton terhadap cerita. Dan Michel Hazanavicius sudah berhasil melakukannya. Sutradara sekaligus penulis di film bisu ini berhasil membuat penonton tetap paham dan tertarik meski hanya dengan balutan dua warna yang klasik dan kusam. <em></em>Dibalik penyampaiannya yang klasik, <em>The Artist</em> juga memiliki aspek teknis yang memukau, hampir tidak ada celah yang membuat<em> The Artist</em> tampil buruk. Ya, <em>The Artist</em> memang bukanlah film bisa dinikmati semua orang, menonton <em>The Artist</em> itu sama saja dengan kita melihat satu setengah jam orang &#8216;gagu&#8217; mencoba mengatakan apa yang ia rasakan. Tak jarang memang <em>The Artist</em> membuat kita malas bahkan mengantuk saat menontonnya. Tapi faktanya jika kita menikmati <em>The Artist</em> sepenuhnya, sejenak melupakan film yang penuh <em>visual effect</em>, <em>The Artist</em> akan tampil jauh lebih menarik.<em><br />
</em><br />
<!--more-->Jelas sebuah film bisu sangat mementingkan kualitas akting didalamnya. Aktor/aktris dituntut untuk bisa menguasai emosi penonton lewat mimik wajah yang mereka suguhkan. Dan Dujardin dan Bejo sudah sangat baik melakukannya. Memainkan skenario garapan Hazanavicius dengan brilian. Meski tidak menyebutkan sepatah kata pun tapi Dujardin dan Bejo sudah bisa menyampaikan karakterisasi ala Hazanavicius lewat bahasa tubuhnya yang indah. Dan sangat tepat juga untuk Hazanavicius menempatkan Dujardin dan Bejo dijajaran <em>cast</em> utama. Mereka benar-benar <em>eye-cathy</em> dihadapan penonton. Benar-benar mampu mengisi kekosongan di film bisu plus hitam putih ini.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/theartist3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Ya, tak bisa di bohongi, selain akting dan naskah sebuah film bisu juga dituntut untuk memiliki latar musik yang mumpuni. Dan seorang Ludovic Bource sudah berhasil menaklukan hati penonton lewat iringan musik besutannya yang setia menyampaikan emosi di setiap adegannya kepada penonton. <em>Composer</em> berambut kriting ini mampu menampilkan sebuah iringan musik klasik khas tahun 20-30an yang sudah sangat akrab di telinga. Meski berbau tua tapi faktanya <em>scoring</em> ala Bource tetap mampu terdengar indah dan modern. Hingga 100 menit film ini berlangsung <em>scoring</em> besutan Bource ini setia mendampingi kita mengatur kadar emosi di tiap bagian film, berhasil membuat film dengan konsep klasik namun dikemas dengan modern ini tampil begitu emosional.<br />
<!--more--><br />
Siapa yang mengira bahwa <em>The Artist</em> adalah sebuah bentuk kecintaan seseorang terhadap film bisu, hampir di setiap adegannya kita akan disuguhkan momen-momen klasik yang hanya bisa kita saksikan film-film era tahun 30an. <em>Well, The Artist</em> memang sebuah bentuk apresiasi yang sangat indah. Hazanavicius benar-benar tahu apa selera penonton. Hazanavicius mampu membalut sebuah film dengan tema klasik dengan asyik dan modern. Juga dengan balutan sinematografi arahan Guillaume Schiffman yang sepanjang film senantiasa mewakili keindahan di setiap <em>frame</em>-nya. Ya, sekarang saya tahu kenapa banyak sekali kritikus yang memuji film bisu ini. <em>The Artist</em> memang bisu tapi faktanya dengan mimik dan gaya bahasa para pemerannya kita dibuat tetap mampu berkomunikasi sepanjang 100 menit lebih. Setiap aspek di <em>The Artist</em> juga mewakili keindahan film-film bisu yang dulu memang <em>booming</em>. Mampu mengemas sebuah perwakilan zaman dengan tidak membosankan.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/452.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/01/review-the-artist-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The 84th Annual Academy Award: Nominations List</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/01/oscar-nominations/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/01/oscar-nominations/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 10:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[award]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Yak! Akhirnya kita tiba juga dipengumuman pagelaran puncak penghargaan insan perfilman dunia, Academy Award atau lebih akrab dengan sebutan Oscar. Pengumuman yang berlangsung kemarin malam (Waktu Indonesia Barat) ini memang menyisihkan cukup banyak dilema.. Saya pribadi jujur bingung harus menyebut, entah kecewa entah terkejut. The Artist yang sebelumnya diagung-agungkan harus mengakui keunggulan nominasi Hugo dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yak! Akhirnya kita tiba juga dipengumuman pagelaran puncak penghargaan insan perfilman dunia, Academy Award atau lebih akrab dengan sebutan Oscar. Pengumuman yang berlangsung kemarin malam (Waktu Indonesia Barat) ini memang menyisihkan cukup banyak dilema.. Saya pribadi jujur bingung harus menyebut, entah kecewa entah terkejut. <em>The Artist</em> yang sebelumnya diagung-agungkan harus mengakui keunggulan nominasi <em>Hugo </em>dengan selisi 1 nominasi &#8211; <em>The Artist</em>: 10 <em>Hugo</em>: 11. Kejutan juga terjadi di area Best Actor, masuknya Damian Bichir dan Gary Oldman, jelas menggusur kandidat yang sebelumnya cukup dijagokan, Leonardo DiCaprio dan Michael Fassbender. Diluar dugaan film animasi kreasi dua sutradara dunia &#8211; Steven Spielberg dan Peter Jackson yang sebelumnya menang dalam kategori Best Animated diajang Golden Globes dan Producer Guild of America harus bersedih hati tidak mendengar nama <em>The Adventure of Tintin</em> tidak disebutkan dalam nominasi Best Animated Feature Oscar, ya.. Oscar tahun ini memang tragis, bahkan di arena Best Picture pun diluar dugaan nama <em>Extremely Lound &amp; Incredibly Close </em>masuk dalam <em>list</em>. Untuk lebih lengkap mengenai daftar nominasi Oscar ke-84 langsung cek aja <em>list </em>dibawah ini!<br />
<span id="more-125"></span><br />
<strong>Best Picture</strong><br />
The Artist (2011)<br />
The Descendants (2011)<br />
Extremely Loud and Incredibly Close (2011)<br />
The Help (2011)<br />
Hugo (2011/II)<br />
Midnight in Paris (2011)<br />
Moneyball (2011)<br />
The Tree of Life (2011)<br />
War Horse (2011)</p>
<p><strong>Best Performance by an Actor in a Leading Role</strong><br />
Demián Bichir for A Better Life (2011)<br />
George Clooney for The Descendants (2011)<br />
Jean Dujardin for The Artist (2011)<br />
Gary Oldman for Tinker Tailor Soldier Spy (2011)<br />
Brad Pitt for Moneyball (2011)</p>
<p><strong>Best Performance by an Actress in a Leading Role</strong><br />
Glenn Close for Albert Nobbs (2011)<br />
Viola Davis for The Help (2011)<br />
Rooney Mara for The Girl with the Dragon Tattoo (2011)<br />
Meryl Streep for The Iron Lady (2011)<br />
Michelle Williams for My Week with Marilyn (2011)</p>
<p><strong>Best Performance by an Actor in a Supporting Role</strong><br />
Kenneth Branagh for My Week with Marilyn (2011)<br />
Jonah Hill for Moneyball (2011)<br />
Nick Nolte for Warrior (2011)<br />
Christopher Plummer for Beginners (2010)<br />
Max von Sydow for Extremely Loud and Incredibly Close (2011)</p>
<p><strong>Best Performance by an Actress in a Supporting Role</strong><br />
Bérénice Bejo for The Artist (2011)<br />
Jessica Chastain for The Help (2011)<br />
Melissa McCarthy for Bridesmaids (2011)<br />
Janet McTeer for Albert Nobbs (2011)<br />
Octavia Spencer for The Help (2011)</p>
<p><strong>Best Director</strong><br />
Woody Allen for Midnight in Paris (2011)<br />
Michel Hazanavicius for The Artist (2011)<br />
Terrence Malick for The Tree of Life (2011)<br />
Alexander Payne for The Descendants (2011)<br />
Martin Scorsese for Hugo (2011/II)</p>
<p><strong>Best Writing &#8211; Original Screenplay</strong><br />
The Artist (2011): Michel Hazanavicius<br />
Bridesmaids (2011): Kristen Wiig, Annie Mumolo<br />
Margin Call (2011): J.C. Chandor<br />
Midnight in Paris (2011): Woody Allen<br />
Jodaeiye Nader az Simin (A Separation) (2011): Asghar Farhadi</p>
<p><strong>Best Writing &#8211; Adapted Screenplay</strong><br />
The Descendants (2011): Alexander Payne, Nat Faxon, Jim Rash<br />
Hugo (2011/II): John Logan<br />
The Ides of March (2011): George Clooney, Grant Heslov, Beau Willimon<br />
Moneyball (2011): Steven Zaillian, Aaron Sorkin, Stan Chervin<br />
Tinker Tailor Soldier Spy (2011): Bridget O&#8217;Connor, Peter Straughan</p>
<p><strong>Best Animated Feature Film </strong><br />
Une vie de chat (2010)<br />
Chico &amp; Rita (2010)<br />
Kung Fu Panda 2 (2011)<br />
Puss in Boots (2011)<br />
Rango (2011)</p>
<p><strong>Best Foreign Language Film</strong><br />
Bullhead (2011): Michael R. Roskam (Belgium)<br />
Footnote (2011): Joseph Cedar (Israel)<br />
In Darkness (2011): Agnieszka Holland (Poland)<br />
Monsieur Lazhar (2011): Philippe Falardeau (Canada)<br />
A Separation (2011): Asghar Farhadi (Iran)[/spoiler]</p>
<p><strong>Best Cinematography</strong><br />
The Artist (2011): Guillaume Schiffman<br />
The Girl with the Dragon Tattoo (2011): Jeff Cronenweth<br />
Hugo (2011/II): Robert Richardson<br />
The Tree of Life (2011): Emmanuel Lubezki<br />
War Horse (2011): Janusz Kaminski</p>
<p><strong>Best Film Editing</strong><br />
The Artist (2011): Anne-Sophie Bion, Michel Hazanavicius<br />
The Descendants (2011): Kevin Tent<br />
The Girl with the Dragon Tattoo (2011): Angus Wall, Kirk Baxter<br />
Hugo (2011/II): Thelma Schoonmaker<br />
Moneyball (2011): Christopher Tellefsen</p>
<p><strong>Best Art Direction</strong><br />
The Artist (2011): Laurence Bennett, Gregory S. Hooper<br />
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (2011): Stuart Craig, Stephenie McMillan<br />
Hugo (2011/II): Dante Ferretti, Francesca Lo Schiavo<br />
Midnight in Paris (2011): Anne Seibel, Hélène Dubreuil<br />
War Horse (2011): Rick Carter, Lee Sandales</p>
<p><strong>Best Costume Design</strong><br />
Anonymous (2011/I): Lisy Christl<br />
The Artist (2011): Mark Bridges<br />
Hugo (2011/II): Sandy Powell<br />
Jane Eyre (2011): Michael O&#8217;Connor<br />
W.E. (2011): Arianne Phillips</p>
<p><strong>Best Makeup</strong><br />
Albert Nobbs (2011)<br />
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (2011)<br />
The Iron Lady (2011)</p>
<p><strong>Best Original Score</strong><br />
The Adventures of Tintin (2011): John Williams<br />
The Artist (2011): Ludovic Bource<br />
Hugo (2011/II): Howard Shore<br />
Tinker Tailor Soldier Spy (2011): Alberto Iglesias<br />
War Horse (2011): John Williams</p>
<p><strong>Best Original Song</strong><br />
The Muppets (2011): Bret McKenzie(&#8220;Man or Muppet&#8221;)<br />
Rio (2011): Sergio Mendes, Carlinhos Brown, Siedah Garrett(&#8220;Real in Rio&#8221;)</p>
<p><strong>Best Sound Mixing</strong><br />
The Girl with the Dragon Tattoo (2011)<br />
Hugo (2011/II)<br />
Moneyball (2011)<br />
Transformers: Dark of the Moon (2011)<br />
War Horse (2011)</p>
<p><strong>Best Sound Editing</strong><br />
Drive (2011)<br />
The Girl with the Dragon Tattoo (2011)<br />
Hugo (2011/II)<br />
Transformers: Dark of the Moon (2011)<br />
War Horse (2011)</p>
<p><strong>Best Visual Effects</strong><br />
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (2011)<br />
Hugo (2011/II)<br />
Real Steel (2011)<br />
Rise of the Planet of the Apes (2011)<br />
Transformers: Dark of the Moon (2011)</p>
<p><strong>Best Documentary &#8211; Feature</strong><br />
Hell and Back Again (2011)<br />
If a Tree Falls: A Story of the Earth Liberation Front (2011)<br />
Paradise Lost 3: Purgatory (2011)<br />
Pina (2011)<br />
Undefeated (2011)</p>
<p><strong>Best Documentary &#8211; Short Subject</strong><br />
The Barber of Birmingham: Foot Soldier of the Civil Rights Movement (2011)<br />
God Is the Bigger Elvis<br />
Incident in New Baghdad (2011)<br />
Saving Face (2011/II)<br />
The Tsunami and the Cherry Blossom (2011)</p>
<p><strong>Best Short Animated Film</strong><br />
Dimanche (2011): Patrick Doyon<br />
The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore (2011): William Joyce, Brandon Oldenburg<br />
La Luna (2011): Enrico Casarosa<br />
A Morning Stroll (2011): Grant Orchard, Sue Goffe<br />
Wild Life (2011): Amanda Forbis, Wendy Tilby</p>
<p><strong>Best Short Live Action Film</strong><br />
Pentecost (2011): Peter McDonald<br />
Raju (2011): Max Zähle, Stefan Gieren<br />
The Shore: Terry George<br />
Time Freak (2011): Andrew Bowler, Gigi Causey<br />
Tuba Atlantic (2010): Hallvar Witzø</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/01/oscar-nominations/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

