<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatanfilm</title>
	<atom:link href="http://catatanfilm.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catatanfilm.com</link>
	<description>Catatanfilm</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 12:40:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Review: Modus Anomali (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/04/review-modus-anomali-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/04/review-modus-anomali-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 05:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[thriller]]></category>
		<category><![CDATA[Hana Al-Rasyid]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Rio Dewanto]]></category>
		<category><![CDATA[Surya Saputra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Modus Anomali dibuka oleh keindahan hutan pinus yang terlintas sepanjang kamera memandang. Semua juga tahu, itu hanya sebuah tipuan. Terlebih ketika Rio Dewanto terbangun dari gundukan tanah yang menguburnya. Rio (John Evans) yang panik berlari menuju sebuah kabin dan menemukan tulisan &#8220;PRESS PLAY&#8221;. Ia menurutinya dan ternyata yang diputarnya itu adalah video seorang Ibu Hamil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilm.com/wp-content/uploads/2012/04/modus-anomali1.jpg" alt="" /></p>
<p><em>Modus Anomali</em> dibuka oleh keindahan hutan pinus yang terlintas sepanjang kamera memandang. Semua juga tahu, itu hanya sebuah tipuan. Terlebih ketika Rio Dewanto terbangun dari gundukan tanah yang menguburnya. Rio (John Evans) yang panik berlari menuju sebuah kabin dan menemukan tulisan &#8220;PRESS PLAY&#8221;. Ia menurutinya dan ternyata yang diputarnya itu adalah video seorang Ibu Hamil yang disika oleh seorang pria bertopeng. Dari sini Joko Anwar sudah mengajak kita bermain dengan teka teki ala dirinya. Sedikit demi sedikit <em>clue</em> mulai Joko tampilkan demi menjawab segilintir pertanyaan yang ada di benak penonton.</p>
<p>Jangan tanya soal <em>suspense</em> yang menggenjot kita di <em>Modus Anomali</em>. Siapa juga tahu 3 dari 4 film Joko Anwar merupakan <em>thriller</em> yang memaksa penontonnya berolahraga jantung. Tapi kalau soal tensi, <em>Modus Anomali </em>jauh lebih tertata ketimbang <em>Pintu Terlarang </em>dan <em>Kala</em>. Hah, bukan hanya soal <em>suspense</em>, <em>as usual</em> Joko juga selalu bisa memainkan logika bahkan memutar otak penontonnya disela-sela ketegangan. Hampir semua tulisan skenario Joko begitu dicintai publik, <em>Arisan!, Janji Joni</em>, <em>Jakarta Undercover</em>, <em>Kala</em>, <em>Quickie Express</em>, <em>Fiksi.</em>, dan <em>Pintu Terlarang</em>, siapa yang lupa dengan seluruh film <em>memorable </em>tersebut. Berbeda dengan beberapa film sebelumnya, yang sudah memiliki intrik yang jelas untuk dijelaskan ke penonton. <em>Modus Anomali</em> justru melakukan sebaliknya intrik yang masih menjadi tanda tanya, akan menjadi suguhan utama dalam film ini.</p>
<p><em>Well</em>, kita ucapkan terima kasih pada Gunna Nimpuno yang sudah begitu baik membangun pergerakan kamera di <em>Modus Anomali</em>. Dan, tak bisa dipungkiri, tata kamera jenius dari seorang pria yang juga sempat menangani <em>Sang Pemimpi</em> itu juga mempengaruhi tensi adegan. Pergerakan kamera yang cenderung  <em>handheld</em>, membuat penonton merasa seakan-akan berada di lokasi bersama sang karakter. Pergerakan karakter yang cepat terkadang diikuti kamera dengan cepat juga. Ya, ini merupakan salah satu faktor mengapa setiap detik di <em>Modus Anomali</em> bisa terasa begitu menegangkan. Plus, jangan lupakan, orang-orang yang berada di departmen suara. Dari mulai <em>scoring</em> sampai <em>mixing, Modus Anomali </em>keluar begitu garang. <em>Scoring </em>yang begitu padu dengan adegan, tentu akan semakin menyita nafas kita. Menjadi nilai plus tersendiri dalam <em>Modus Anomali</em>. Atau pencampuran suara internal dengan external, seperti suara-suara sekitar hutan, akan semakin membuat <em>Modus Anomali</em> tampil kian realistis.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/modus-anomali2.jpg" alt="" /></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/modus-anomali3.jpg" alt="" /></p>
<p>Sulit berbicara tentang <em>Modus Anomali</em> tanpa menyinggung <em>spoiler</em>. Jadi jangan harapkan saya disini membahas aspek cerita dari <em>Modus Anomali</em>. Karena kunci di <em>Modus Anomali</em> selain akting gila dari Rio Dewanto adalah ceritanya yang memutar otak penonton. Publik sadar bahwa sebenarnya ide gila Joko melawan arah pasar perfilman Indonesia memanglah gila. Tapi Joko lebih tahu, bahwa Indonesia memang butuh asupan yang berbeda. Dan faktanya, publik begitu menanti karya keempat dari sutradara kelahiran Medan itu. Meski buat saya <em>Modus Anomali</em> bukanlah <em>masterpiece</em> dari seorang Joko Anwar, tapi tetap saja, sebagai sebuah tontonan berkelas yang menyajikan kita sebuah <em>thriller</em> ekstrem nomer wahid, <em>Modus Anomali</em> tidak boleh terlewatkan.</p>
<p>Jangan tanya perasaan saya ketika menonton <em>Modus Anomali</em>, perasaannya campur aduk. Disatu sisi Joko menawarkan dan memaksa kita melihat adegan demi adegan yang <em>thrilling</em>. Tapi disisi lain, Joko juga memaksa kita berfikir tentang cerita di <em>Modus Anomali</em>, yang sudah dirancang seperti puzzle. Sudah tipikal Joko Anwar sekali, bukan.. Menyelipkan sebuah akhir yang berada diluar jangakauan pola pikir penontonnya. <em>Modus Anomali</em> itu dikemas dan didesain memang untuk menegangkan dan memutar otak penontonnya selama kurang lebih 80 menit. Dan jangan tanya saya juga apa hasil dari penggabungan yang luar biasa dari gaya penceritaan yang &#8216;gila&#8217; dengan <em>genre</em> yang masih awam di Indonesia ini juga. Hasilnya adalah sebuah petunjuk. Darah, kejar-kejaran, teka-teki akan menjadi makanan kita selama menonton <em>Modus Anomali</em>.</p>
<p>Jangan lupakan Rio Dewanto. Cerita yang memutar otak, atau segelintir adegan kejar-kejaran dengan maut seakan tak ada artinya jika bukan tanpa nama Rio Dewanto. Ya, aktor yang sebelumnya sempat memerankan karakter gay dalam <em>Arisan! 2</em> ini mampu memainkan <em>one man show</em>-nya dengan sangat baik. Aktingnya memang spektakuler, tak menjamin saya jika bukan Rio Dewanto yang memerankan, <em>Modus Anomali</em> bisa tampil se-<em>all out </em>ini.Ttapi aksen Inggris yang Rio bawakan sedikit terdengar ganjil di telinga saya. Entah mengapa saya merasakan banyak sekali ke klise-an di dialog <em>Modus Anomali</em>. Seperti kata-kata kotor yang ingin dilampiaskan, itu terdengar ganjil ditelinga saya, terlebih kata-kata kotor itu cukup sering diucapkan. Entah karena faktor tuntutan berbahasa asing atau memang sudah dasarnya karakter yang dibawakan Rio seperti itu. Lupakan, bahwa aksen Inggris yang dibawakan Rio cukup gagal, karena semua itu terbayar lunas jika kita melihat kesempurnaan Rio berbaur dengan lingkungan dan begitu mendalami karakter yang ia bawakan.</p>
<p><em>One of Indonesian most anticipated movie</em>, memang layak disandang <em>Modus Anomali</em>. Keberanian Joko melawan arus pasar perfilman Indonesia, serta idealisme yang begitu tinggi demi membangun sinema Indonesia sangat patut kita acungi jempol. Dengan teknik penceritaan yang sudah &#8216;Joko Anwar banget&#8217; serta segelintir adegan yang tensinya tak akan segan menyita nafas kita. Sekilas, <em>Modus Anomali</em> memang terlihat jauh lebih &#8216;mapan&#8217; ketimbang film dari Joko Anwar yang berkolaborasi dengan produser Lala Timothy sebelumnya (baca: <em>Pintu Terlarang</em>). <em>Modus Anomali</em> dibuat dari <em>crew</em> yang benar-benar profesional. Terlihat dari hasil kerjanya. Hampir semua aspek teknis yang ada di <em>Modus Anomali</em> berakhir sempurna. <em>Modus Anomali</em> merupakan salah satu bukti bahwa perfilman Indonesia sedang tidak berada di masa <em>stuck</em>-nya. Justru perfilman Indonesia kini sedang berada di masa revolusinya, dimana ide dan kreatifitas sudah tidak ada batasan lagi.</p>
<p><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/35.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/04/review-modus-anomali-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2012 Cannes International Film Festival: Official Lineup</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/04/2012-cannes-international-film-festival-official-lineup/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/04/2012-cannes-international-film-festival-official-lineup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 10:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[award]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Banyak alasan mengapa banyak orang menanti-nanti lineup Cannes meski pada faktanya mereka tidak datang atau langsung berada di arena Festival. Karena Cannes merupakan festival film yang disebut-sebut paling bergengsi serta tertua di dunia merupakan salah satu contohnya. Cannes memang sudah tercap sebagai festival yang bisa melejitkan nama film dalam semalam. Serta tak segan film-film alumni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/cannes.jpg" alt="" width="570" height="208" /></p>
<div>
<p>Banyak alasan mengapa banyak orang menanti-nanti <em>lineup</em> Cannes meski pada faktanya mereka tidak datang atau langsung berada di arena Festival. Karena <em>Cannes</em> merupakan festival film yang disebut-sebut paling bergengsi serta tertua di dunia merupakan salah satu contohnya. <em>Cannes</em> memang sudah tercap sebagai festival yang bisa melejitkan nama film dalam semalam. Serta tak segan film-film alumni <em>Cannes </em>pun menyentuh Oscar. Ribuan peserta men-<em>submit</em> filmnya, namun hanya puluhan yang bisa masuk. Itu pun mencakup beberapa kategori seperti, <em>Special Sreening</em>, <em>Shorts, Un Certain Regrads, Midnight Screening, Competition, </em>dan <em>Cinefondation</em>. Pasca diumumkannya <em>lineup</em> resmi <em>Cannes</em> ke-84 tahun ini, dari sekian film yang lolos seleksi. Film <em>Cosmopolis </em>garapan David Cronenberg adalah yang paling mencuat. Tak lain dan tak bukan adalah karena terselipnya nama Robert Pattinson di jajaran departmen akting. Bukan karena publik tak setuju, tapi karena imej jelek yang sudah melekat pada dirinya selama membintangi Saga vampir, <em>Twilight</em> membuat publik sedikit terkejut.</p>
<div>
<p>Festival yang dihelat 16 sampai 27 Mei serta dibuka oleh <em>Moonrise Kingdom</em> dari Wes Anderson dan ditutup oleh<strong></strong> <em>Therese D</em> karya Claude Miller ini juga menyisahkan kejutan-kejutan lain. Seperti yang sudah diprediksi banyak publik dan kritikus, <em>The Burial </em>dari Terrence Malick dan <em>The Master</em> dari Thomas Anderson akan masuk kompetisi utama <em>Cannes </em>2012 ini. Tapi faktanya <em>festival director Cannes International Film Festival</em>, Thierry Fremaux menyatakan bahwa kedua film tersebut belum siap secara materi yang akan dipublikasikan. Yup, langsung aja kita lihat daftar lengkap <em>lineup Cannes 2012</em>!</p>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>FEATURE FILM JURY</strong></span></em></div>
<ul>
<li>Nanni Moretti</li>
</ul>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>THE SHORT FILM AND CINEFONDATION JURY</strong></span></em></div>
<ul>
<li>Jean-Pierre Dardenne, President</li>
<li>Arsinee Khanjian</li>
<li>Karim Ainouz</li>
<li>Emmanuel Carrere</li>
<li>Yu Lik-wai</li>
</ul>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>UN CERTAIN REGARD JURY</strong></span></em></div>
<ul>
<li>Tim Roth</li>
</ul>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>OPENING FILM</strong></span></em></div>
<ul>
<li><em>Moonrise Kingdom</em> (dir. Wes Anderson) [Also In Competition]</li>
</ul>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>CLOSING FILM</strong></span></em></div>
<ul>
<li><em>Therese Desqueyroux</em> (dir. Claude Miller)</li>
</ul>
<div>
<p><em><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>IN COMPETITION</strong></span></em></em></p>
<ul>
<li><em>Rust and Bone</em> (dir. Jacques Audiard)</li>
<li><em>Holy Motors</em> (dir. Leos Carax)</li>
<li><em>Cosmopolis</em> (dir. David Cronenberg)</li>
<li><em>The Paperboy</em> (dir. Lee Daniels)</li>
<li><em>Killing Them Softly</em> (dir. Andrew Dominik)</li>
<li><em>Reality</em> (dir. Matteo Garrone)</li>
<li><em>Love</em> (<em>Amour</em>) (dir. Michael Haneke)</li>
<li><em>Lawless</em> (dir. John Hillcoat)</li>
<li><em>In Another Country</em> (<em>Da-Reun Na-Ra-E-Suh</em>) (dir. Sangsoo Hong)</li>
<li><em>Taste of Money</em> (dir. Sangsoo Im)</li>
<li><em>Like Someone In Love</em> (dir. Abbas Kiarostami)</li>
<li><em>The Angels&#8217; Share</em> (dir. Ken Loach)</li>
<li><em>Beyond the Hills</em> (dir. Cristian Mungiu)</li>
<li><em>Baad el Mawkeaa Apres la Bataille)</em> (dir. Yousry Nasrallah)</li>
<li><em>Mud</em> (dir. Jeff Nichols)</li>
<li><em>You Haven&#8217;t Seen Anything Yet</em> (<em>Vous n&#8217;avez encore rien vu</em>) (dir. Alain RESNAIS)</li>
<li><em>Post Tenebras Lux</em> (dir. Carlos Reygadas)</li>
<li><em>On the Road</em> (dir. Walter Salles)</li>
<li><em>Paradies: Liebe</em> (dir. Ulrich Seidl)</li>
<li><em>The Hunt</em> (Jagten) (dir. Thomas Vinterberg)</li>
<li><em>Im Nebel (Dans la Brume)</em> (dir. Sergei Loznitsa)</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><em><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>UN CERTAIN REGARD</strong></span></em></em></p>
<ul>
<li><em>Miss Lovely</em> (dir. Ashim Ahluwalia)</li>
<li><em>La Playa</em> (dir. Juan Andres Arango)</li>
<li><em>Les Chevaus de Dieu</em> (dir. Nabil Ayouch)</li>
<li><em>Trois Mondes</em> (dir. Catherine Corsini)</li>
<li><em>Antiviral</em> (dir. Brandon Cronenberg)</li>
<li><em>7 Dias en la Habana</em> (dir. Laurent Cantet, Benicio Del Toro, Julio Medem, Gaspar Noe, Elia Suleiman, Juan Carlos Tabio and Pablo Trapero)</li>
<li><em>Le Grand Soir</em> (dir. Benoit DELEPINE and Gustave Kervern)</li>
<li><em>Laurence Anyways</em> (dir. Xavier Dolan)</li>
<li><em>Despues de Lucia</em> (dir. Michel Franco)</li>
<li><em>Aimer a Perdre la Raison</em> (dir. Joachim Lafosse)</li>
<li><em>Mystery</em> (dir. Lou Ye)</li>
<li><em>Student</em> (dir. Darezhan Omirbayev)</li>
<li><em>La Pirogue</em> (dir. Moussa Toure)</li>
<li><em>Elefante Blanco</em> (dir. Pablo Trapero)</li>
<li><em>Confession of a Child of the Century</em> (dir. Sylvie Verheyde)</li>
<li><em>11.25 the Day He Chose His Own Fate</em> (dir. Koji Wakamatsu)</li>
<li><em>Beasts of the Southern Wild</em> (dir. Benh Zeitlin)</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>OUT OF COMPETITION</strong></span></em></div>
<ul>
<li><em>Ai Io Makoto</em> (dir. Takashi Miike)</li>
<li><em>Io e Te</em> (dir. Bernardo Bertolucci)</li>
<li><em>Madagascar 3: Europe&#8217;s Most Wanted</em> (dir. Eric Darnell and Tom McGrath)</li>
<li><em>Hemingway and Gellhorn</em> (dir. Philip Kaufman)</li>
</ul>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>MIDNIGHT SCREENINGS</strong></span></em></div>
<ul>
<li><em>Dario Argento&#8217;s Dracula 3-D</em> (dir. Dario Argento)</li>
</ul>
<div>
<p><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: underline;"><em><strong>SPECIAL SCREENINGS</strong></em></span></span></p>
<ul>
<li><em>Garbage in the Garden of Eden (Der mull im garten Eden)</em> (dir. Faith AKIN)</li>
<li><em>ROMAN POLANSKI: A FILM MEMOIR</em> (dir. Laurent BOUZEREAU)</li>
<li><em>THE CENTRAL PARK FIVE</em> (dir. Ken BURNS, Sarah BURNS and David MCMAHON)</li>
<li><em>LES INVISIBLES</em> (dir. Sebastien LIFSHITZ)</li>
<li><em>JOURNAL DE FRANCE</em> (dir. Claudine NOUGARET and Raymond DEPARDON)</li>
<li><em>A MUSICA SEGUNDO TOM JOBIM</em> (dir. Nelson PEREIRA DOS SANTOS)</li>
<li><em>VILLEGAS</em> (dir. Gonzalo TOBAL)</li>
<li><em>MEKONG HOTEL</em> (dir. Apichatpong WEERASETHAKUL)</li>
</ul>
</div>
<div></div>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>Short Films</strong></span></em></div>
<ul>
<li><em>Mi Santa Mirada</em> (dir. Alvaro Aponte-Centeno – Puerto Rico</li>
<li><em>Gasp (Souffle)</em> (dir. Eicke Bettinga – Germany</li>
<li><em>Ce Chemin Devant Moi</em> (dir. Mohamed Bourokba a.k.a. Hame) – France</li>
<li><em>Waiting For P.O. Box (Falastein, Sandouk Al Intezar Lil Burtuqal)</em> (dir. Bassam Chekhes) – Syria</li>
<li><em>The Chair</em> (dir. Grainger David) – US</li>
<li><em>Night Shift</em> (dir. Zia Mandivwalla) – New Zealand</li>
<li><em>Chef De Meute</em> (dir. Chloe Robichaud) – Canada</li>
<li><em>Yardbird</em> (dir. Michael Spiccia) – Australia</li>
<li><em>Cockaigne</em> (dir. Emilie Verhamme) – Belgium</li>
<li><em>Silent (Sessiz-Be Deng)</em> (dir. L Rezan Yesilbas) – Turkey</li>
</ul>
<div><em><span style="text-decoration: underline;"><strong>The Cinefondation Selection</strong></span></em></div>
<ul>
<li><em>Behind Me Olive Trees (Derriere Moi Les Oliviers)</em> (dir. Pascale Abou Jamra) – ALBA, Lebanon</li>
<li><em>The Barber (Riyoushi)</em> (dir. Shoichi Akino) – Tokyo University of The Arts, Japan</li>
<li><em>The Raptures (Les Ravissements)</em> (dir. Arthur Cahn) – La Femis, France</li>
<li><em>Slug Invasion</em> (dir. Morten Helgeland) – The Animation Workshop, Denmark</li>
<li><em>Tambylles</em> (dir. Michal Hogenauer) – FAMU, Czech Republic</li>
<li><em>Matteus</em> (dir. Leni Huyghe) – Sint-Lukas Brussels, Belgium</li>
<li><em>The Camp in Razoare</em> (dir. Cristi Iftime) – UNATC, Romania</li>
<li><em>The Road To (Doroga Na)</em> (dir. Taisia Igumentseva) – VGIK, Russia</li>
<li><em>Land (Terra)</em> (dir. Piero Messina) – CSC, Italy</li>
<li><em>The Hosts (Los Anfitriones)</em> (dir. MIguel Angel Moulet) – EICTV, Cuba</li>
<li><em>The Ballad of Finn + Yeti</em> (dir. Meryl O&#8217;Connor) – UCLA, US</li>
<li><em>Head Over Heels</em> (dir. Timothy Reckart) – NFTS, UK</li>
<li><em>Abigail</em> (dir. Matthew James Reilly) – NYU, US</li>
<li><em>Dog Leash (Resen)</em> (dir. Eti Tsicko) – TAU, Israel</li>
<li><em>Could See A Puma (Pude Ver Un Puma)</em> (dir. Eduardo Williams) – UCINE, Argentina</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/04/2012-cannes-international-film-festival-official-lineup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: 21 Jump Street (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/04/review-21-jump-street-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/04/review-21-jump-street-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 08:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Chaning Tattum]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Miller]]></category>
		<category><![CDATA[Jonah Hill]]></category>
		<category><![CDATA[Phil Lord]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Namanya yang sudah tidak asing ketika membintangi Superbad (2007) plus Moneyball (2011) yang sempat menjadi unggulan di ajang Academy Awards, membuat publik sudah tak akan ragu lagi melihat Jonah Hill berakting. Ditambah partner yang tidak kalah menjanjikan namanya, Channing Tatum. Sebuah awal yang menjanjikan bukan, meski melihat beberapa film terakhir Tatum berakhir boring. Well, beralih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/21jumpstreet2.jpg" alt="" /></p>
<p>Namanya yang sudah tidak asing ketika membintangi <em>Superbad</em> (2007) plus <em>Moneyball</em> (2011) yang sempat menjadi unggulan di ajang <em>Academy Awards</em>, membuat publik sudah tak akan ragu lagi melihat Jonah Hill berakting. Ditambah <em>partner </em>yang tidak kalah menjanjikan namanya, Channing Tatum. Sebuah awal yang menjanjikan bukan, meski melihat beberapa film terakhir Tatum berakhir <em>boring</em>. <em>Well</em>, beralih melihat fakta lain bahwa, sampai saat ini film yang diangkat dari serial televisi masih lah jarang. Jadi sebuah kesempatan menarik melihat serial yang sempat populer ditahun 1987 hingga awal 90an ini di filmkan. Hal yang pasti adalah pengemasan <em>21 Jump Street</em> versi film pasti akan jauh lebih modern. Tapi <em>21 Jump Street</em> versi 2012 ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan serialnya dulu. Hanya pemegangan konsep saja yang masih bisa kita ambil persamaan antara serial dengan film. Karakter dan konflik sepenuhnya berbeda.</p>
<p>Lupakan jika faktanya, <em>21 Jump Street</em> versi modern ini tidak memuaskan dari segi lika liku perjalanan dua polisi ditengah penyamarannya. Tapi selalu percaya bahwa duo sutradara yang baru memulai debutnya di 2009 lalu lewat C<em>loudy with a Chance of Meatballs</em>, Phil Lord dan Chris Miller ini mampu mengubah ketidak percayaan kita pada cerita menjadi sebuah reaksi tawa yang tiada henti sepanjang film. Phil dan Chris tak akan segan-segan mengubah <em>21 Jump Street</em> menjadi sebuah wahana roller coaster yang ditiap bagian mengerikannya berarti saatnya tertawa. Lewat penggalian duo karakter utama yang begitu dalam, tentu akan semakin mudah untuk Phil dan Chris mengocok perut penontonnya. Plus komedi yang disuguhkan juga bukan lah komedi biasa. Dibilang komedi cerdas pun bukan. Mungkin lebih tepatnya komedi yang berani. Jika bukan keberanian menyelipkan adegan berani dibumbui dialog yang juga gila, atau sebaliknya. <em>21 Jump Street</em> tak mungkin bisa tampil se-&#8217;modern&#8217; ini.</p>
<p>Selain lebih dari 100 menit penuh dengan gejolak tawa yang bereaksi dari sebuah adegan dan dialog yang tampil berani, Phil dan Chris juga mampu mengacak-ngacak suasana, dengan menyelipkan adegan <em>action</em>, konyol, hingga persahabatan. Semua dirangkai Phil dan Chris dengan baik. Juga, pengaturan dari porsi masing-masing suguhan. Semua tampil pas, dengan tidak melupakan komedi yang sudah menjadi khas <em>21 Jump Street </em>versi modern ini. <em>21 Jump Street</em> versi modern ini sebenarnya bercerita tentang Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) yang sedang ditugaskan dalam misi penyamaran demi mengungkap penyebaran obat-obatan terlarang bernaman <em>HFS </em>yang sedang populer dikalangan siswa SMA ditempat mereka ditugaskan. Dulunya, semasa SMA Schmidt dan Jenko memang bisa dibilang tidak memiliki hubungan yang baik. Tapi ketika keduanya memilih masuk akademi kepolisian dan dituntut untuk melengkapi satu sama lain dan menjadi partner, persahabatan pun menjadi pilihannya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/21jumpstreet3.jpg" alt="" /></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/21jumpstreet4.jpg" alt="" /></p>
<p>Sejak awal, <em>21 Jump Street</em>sudah berusaha mengocok perut penontonnya. Lewat komedi yang sebenarnya klasik, namun lewat penyampaian Hill dan Tatum yang begitu cocok dengan karakter Schmidt dan Jenko, ke-klasikan itu berubah menjadi berbagai adegan-adegan konyol. Juga, jangan lupakan beberapa peran pendukung yang tidak kalah vital dalam membangun suasana humor, seperti Brie Larson, Ice Cube, dan Dave Franco, dengan penyatuan karakter yang mereka bawakan masing-masing plus naskah konyol ala Michael Bacall, Michael Bacall, serta yang tidak diduga-duga Jonah Hill yang ternyata turut menulis naskah <em>21 Jump Street</em> ini. <em>Whoa! 21 Jump Street</em> memang mutlak film yang difungsikan untuk hiburan. Jangan terlalu banyak berpikir oleh apa yang terjadi diakhir, atau kejutan-kejutan lain yang tak terduga. Anda cukup duduk dan menikmati penyamaran dua polisi bodoh yang layak ditertawakan.</p>
<p>Dan, unsur lain yang membuat <em>21 Jump Street</em> tampil berbeda dari komedi-komedi sejenis adalah, <em>soundtrack</em>-nya yang asyik. Memang akan jauh lebih &#8220;paten&#8221; melihat <em>21 Jump Street</em> yang sudah berevolusi ini dibalut dengan lagu-lagu yang &#8220;klop&#8221; dengan adegan demi adegan. Sekilas memang terlihat beda dengan serial televisinya dulu, yang lebih menonjolkan elemen <em>crime</em> dan <em>drama</em>-nya. Kata-kata kotor serta adegan-adegan yang juga tidak kalah gila akan menjadi makanan kita sepanjang lebih dari 100 menit menikmati film ini. Lewat pembawaannya yang gila, duo Phil Lord dan Chris Miller sudah berhasil mengobrak-abrik perut penonton, plus mengkonversikan <em>21 Jump Street</em> menjadi salah satu film dengan komedi lepas dan berani yang sukses. Serta menjatuhkan cap-cap buruk yang kerap hadir di film-film yang dibintangi Tatum.</p>
<p><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/4.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/04/review-21-jump-street-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: Sanubari Jakarta (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/04/review-sanubari-jakarta-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/04/review-sanubari-jakarta-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 11:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Well.. Lagi-lagi Omnibus. Omnibus memang jelas menggambarkan sebuah karya kelas atas dengan semangat ala indie filmmaker. Mereka semua bergabung menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Yakni berupa sebuah film yang tersusun dari beberapa segmen yang ideal dan asyik dinikmati. Sanubari Jakarta yang diproduseri Lola Amaria ini mengangkat tema tentang hubungan kaum minoritas yang terjadi di Ibukota, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/sanubari-jakarta.png" alt="" /></p>
<p><em>Well</em>.. Lagi-lagi Omnibus. Omnibus memang jelas menggambarkan sebuah karya kelas atas dengan semangat ala <em>indie filmmaker</em>. Mereka semua bergabung menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Yakni berupa sebuah film yang tersusun dari beberapa segmen yang ideal dan asyik dinikmati. <em>Sanubari Jakarta</em> yang diproduseri Lola Amaria ini mengangkat tema tentang hubungan kaum minoritas yang terjadi di Ibukota, masyarakat menyebutnya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgender). Setelah sukses membuktikan bahwa Omnibus memang sangat cocok ditempatkan di <em>genre horror</em> lewat, FISFIC dan Hi5teria. Kini sepuluh sutradara dalam <em>Sanubari Jakarta</em> membuktikan bahwa Omnibus juga memiliki kecocokan dengan drama. <em>Dilema</em> adalah salah satu yang sudah mencobanya. Juga, dengan tema yang hampir sejenis dengan <em>Sanubari Jakarta</em>. Tapi faktanya kegagalan Omnibus yang diproduseri Wulan Guritno itu sedikit menggambarkan bahwa Omnibus akan gagal jika dibumbui drama. Tapi sebentar, ini <em>Sanubari Jakarta</em>, bukan <em>Dilema</em>!</p>
<p><em>Sanubari Jakarta</em> bisa dibilang jauh lebih terkonsep. Dengan 10 cerita berbeda, bisa dipastikan bahwa penonton akan merasakan sebuah pengalaman yang berbeda-beda juga, meski pada intinya terpaku pada satu hal. Segmen-segmen yang terdiri dari <em>1/2 , Malam Ini Aku Cantik, Lumba-Lumba, Terhubung, Kentang, Menunggu Warna, Pembalut, Topeng Srikandi, Untuk A</em> dan <em>Kotak Coklat</em> akan menyuguhkan kita sebuah pengalaman cerita dan sinematik yang tidak bisa kita saksikan di film-film lainnya. Dibuka dengan kegemerlapan kota Jakarta, secara tidak langsung <em>Sanubari Jakarta</em> sudah mengajak kita terjun ke dunia tersebut. Kisah yang dibawakan memang tidak enteng, bahkan awalnya saya ragu bahwa <em>Sanubari Jakarta</em> akan ditampilkan secara publik. Tapi dengan semangat kesepuluh sutradara dibantu dua produser utama, <em>Sanubari Jakarta</em> kini bisa dinikmati semua orang. <em>Sanubari Jakarta</em> sama sekali bukan film yang mempromosikan atau malah sebaliknya, mencaci keberadaan kaum minoritas  disekitar kita. Sebaliknya, kita akan dibawa masuk kedalam kisah cinta kaum tersebut. Kita akan merasakan bagaimana cinta yang dianggap &#8216;tabu&#8217; itu bisa tampil jauh lebih <em>sweet</em> ketimbang cinta yang &#8216;normal&#8217;.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/sanubarijkt.jpg" alt="" /></p>
<p>Omnibus <em>Sanubari Jakarta</em> seluruhnya ditulis oleh Leila Safira. Setiap segmennya ditulis dan dieksekusi oleh sutradara masing-masing dengan cara yang berbeda-beda. Seperti dalam<em> 1/2 </em>dan <em>Lumba-Lumba</em>, yang sejak awal sudah menjelaskan kita kisah tentang dilema <em></em>ber-orientasi seksual. Atau <em>Topeng Srikandi</em> yang sedikit berbeda dengan secara mutlak menjelaskan pentingnya emansipasi wanita.  Atau juga, <em>Kotak Coklat</em> yang mengisahkan tentang kisah cinta seorang pria <em>transgender.</em>Ada juga,<em> Menunggu Warna</em> yang terlihat jauh lebih simpel. Sesuai dengan judulnya &#8216;Menunggu Warna&#8217;. Adryanto Dewo selaku sutradara yang sebelumnya sempat menangani salah satu segmen dalam Hi5teria lebih memilih menyampaikan pesannya dalam <em>Menunggu Warna</em> dengan hitam putih dan tanpa dialog. Dan dari sekian segmen dalam <em>Sanubari Jakarta</em>,  <em>Pembalut </em>karya Billy Christian adalah yang paling saya tunggu. Sudah jatuh cinta sejak mengisi segmen <em>Kotak Musik </em>dalam <em>Hi5teria</em>, saya jelas sangat menantikan karya Billy selanjutnya. Dan, tak hanya hebat di <em>horror</em>. Billy yang dituntut mengeksekusi cerita tentang kehidupan wanita <em>lesbian</em>, berhasil melakukannya dengan baik. Billy dengan cukup baik menggambarkan metafora bahwa wanita <em>lesbian</em> atau tidak, secara utuh adalah sama.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/sanubarijkt2.jpg" alt="" /></p>
<p>Perspeksi dan cerita yang beragam juga dieksekusi dengan artistik yang apik oleh kesepuluh sutradara. Dan pemaparan artistik yang masing-masing berbeda ini sudah jelas memiliki kondisi ruang <em>mood</em> untuk penonton yang berbeda-beda juga. Meski dalam beberapa segmen terjadi pengulangan tema seperti dalam <em>Kotak Coklat</em> dan <em>Untuk A </em>yang sama-sama berbicara soal <em>transgender</em>, tapi kenyataannya lewat <em>mood</em> yang berbeda membuat keduanya tampil dengan berbeda juga. Atau <em>Malam ini Aku Cantik </em>dan <em>Terhubung</em> lebih memilih berbicara soal jodoh. Hal-hal yang klise seperti cinta dan jodoh akan disulap menjadi sebuah karya yang artistik dan penuh pendalaman konflik disini. Dengan transisi segmen ke segmen yang begitu mulus akan membuat penonton seakan-akan tidak berpindah segmen. <em>Well</em>, meski mengangkat tema yang sekilas sulit untuk dipahami dan dinikmati tapi faktanya, <em>Sanubari Jakarta</em> keluar dengan cerita yang sepenuhnya mudah dinikmati.</p>
<p><em>Sanubari Jakarta</em> adalah sebuah percampuran yang sempurna dari beberapa elemen. Mulai dari tawa sampai haru. Dan kembali, lewat penjelasan psikologis tiap karakter yang tergali total juga lewat <em>editing</em> yang menggambarkan begitu elegan dan berkelasnya tiap segmen membuktikan bahwa <em>Sanubari Jakarta</em> bukanlah sebuah gabungan dari beberapa film Indie. Dari pengeksekusian mungkin jelas terlihat bahwa, <em>Sanubari Jakarta </em>merupakan film minim <em>budget</em>. Ya, hampir sama dengan Omnibus lainnya. Tapi, banyak faktor-faktor lainnya yang sesungguhnya menutupi keminiman <em>budget Sanubari Jakarta</em>. Dan lewat begitu berkelasnya <em>Sanubari Jakarta</em> meski diproduksi lewat dana yang terlihat minim, penonton akan dijauhi dari kata-kata &#8216;jijik&#8217; melihat hal-hal yang saat ini dimasyarakat masih dianggap tabu, bahkan dilarang. Dan lewat <em>Sanubari Jakarta</em> juga, publik akan semakin diperlihatkan bahwa banyak sutradara-sutradara Indonesia berkualitas diluar sana.</p>
<p><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/35.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/04/review-sanubari-jakarta-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: [REC]³ Génesis (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/04/review-rec-genesis-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/04/review-rec-genesis-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 10:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan yang direngkuh [REC] dan [REC] ² merupakan alasan utama mengapa Paco Plaza bersikukuh melanjutkan franchise horror yang terkenal menggunakan gaya mockumenter ini. Tidak hanya kesuksesan secara finansial, [REC] yang dirilis sekitar akhir 2007 juga berhasil menaklukan hati publik Hollywood, hingga akhirnya diputuskan untuk dibuat ulang atau di-remake dengan judul Quarentine di tahun 2008. Paco [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/rec33.jpg" alt="" /></p>
<p>Keberhasilan yang direngkuh <em>[REC]</em> dan <em>[REC] ²</em> merupakan alasan utama mengapa Paco Plaza bersikukuh melanjutkan <em>franchise horror</em> yang terkenal menggunakan gaya <em>mockumenter</em> ini. Tidak hanya kesuksesan secara finansial, <em>[REC]</em> yang dirilis sekitar akhir 2007 juga berhasil menaklukan hati publik <em>Hollywood</em>, hingga akhirnya diputuskan untuk dibuat ulang atau di-<em>remake</em> dengan judul <em>Quarentine</em> di tahun 2008. Paco Plaza dan Jaume Balagueró selau sutradara <em>[REC]</em> dan <em>[REC] ²</em> memang bisa dibilang semakin menghidupkan era <em>Horror</em> dengan gaya <em>mockumenter</em>. Tidak seperti di dua film sebelumnya, di seri ketiga <em>[REC]</em> ini Paco memutuskan untuk menyutradarainya seorang diri. Pun begitu pada penulisan naskah, Paco yang biasa ditemani Jaume Balagueró, kini lebih memilih untuk hanya berpartner dengan Luiso Berdejo, yang juga sempat menjadi penulis naskah <em>[REC]</em><em> ²</em> bersama dirinya dan Jaume.</p>
<p>Meski bisa dibilang gaya <em>mockumenter</em> memuakan &#8212; memuakan dalam arti <em>shoot</em> kamera yang terlalu <em>close</em> pada suatu objek serta pergerakannya yang terlalu <em>shaky</em> &#8212; tapi disisi lain, gaya seperti ini akan melahirkan sebuah atmosfer tersendiri. Sebuah rasa ketakutan tersendiri. Terlebih jika kita mengingat betapa seramnya <em>[REC]</em> dan <em>[REC]</em><em> ² . </em>Diluar dugaan semua orang, <em>mockumenter</em> yang sudah jadi <em>trademark [REC]</em> ternyata harus berkhir diseri ketiganya ini. Paco hanya menempatkan gaya ini di 15 menit awal film. Sisanya adalah kamera normal. Entah karena tuntutan cerita atau apa. Yang jelas bagi kita yang menantikan gaya <em>mockumenter</em> ala Paco Plaza yang sudah mendunia pasti kecewa. Namun secara keseluruhan Paco memang terlihat ingin menyuguhkan sesuatu yang baru, <em>setting</em> yang jauh dari dua seri sebelumnya, serta suasana yang jika di dua film sebelumnya selalu diwarnai dengan kegelapan, kini Paco menyuguhkan kejar-kejaran ala Zombie di siang hari. Masuk akal memang kalau penyuguhan hal yang baru ini merupakan skenario Paco demi kesuskesan sekuelnya nanti, yang juga merupakan akhir dari <em>franchise [REC]</em>.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/rec31.jpg" alt="" /></p>
<p><em>[REC]³ Génesis </em>ini memiliki latar waktu yang paralel dengan kejadian di <em>[REC]<em>²</em></em>. Yang artinya jika kita mengartikannya dari kronologi waktu <em>[REC]³</em> bukanlah <em>sequel</em> dari <em>[REC]<em>²</em></em>. Melainkan dua kejadian yang berlangsung disaat yang sama namun di <em>setting</em> yang berbeda. Kali ini Paco Plaza coba mengangkat perkawinan Koldo (Diego Martín) dan Clara (Leticia Dolera) sebagai medan utama penyatuan antara Zombie dengan manusia. Perkawinan yang semula berjalan lancar mendadak ricuh ketika paman Koldo, Victor menggigit salah seorang tamu undangan. Dan <em>voila</em>, suasana yang tidak kondusif ditambah virus yang semakin menyebar akan menjadi makanan penonton selama film ini berlangsung. Dan ya, terpisah dari tidak kondusifnya suasana, dan virus zombie yang sudah menyebar, dilain tempat Koldo dan Clara terpisah. Namun ikatan batin yang begitu kuat diantara mereka berdua membuat mereka tidak ingin pergi sebelum saling bertemu satu sama lain.</p>
<p>Berbeda dengan dua pendahulunya, di <em></em><em>[REC]³</em> ini Paco terbilang tidak memikirkan <em>pace</em> yang terbangun seperti yang ia lakukan di dua film sebelumnya. Tidak usah berharap <em>[REC]³</em> akan diisi oleh adegan demi adegan yang membuat kita olahraga jantung. Tapi disisi lain, Paco lebih mengerahkan zombie sebagai senjata utama. <em>Well</em>, saya benar-benar suka bagaimana Clara membasmi Zombie dengan begitu brutal. Demi bertemu dengan kekasih hatinya juga tentunya. Sama dengan dua film sebelumnya, Paco juga mengantar penonton ke tahap demi tahap yang lebih <em>extreme</em>. Bedanya jika di <em>[REC]</em> dan <em>[REC]<em>²</em></em>, penonton tak segan-segan diperlihatkan adegan yang hororik penuh pengujian mental, di <em>[REC]³</em> ini Paco seakan pelit mengizinkan kita untuk kembali berolah raga jantung dengannya. Cerita yang seharusnya semakin lama terbangun semakin menegangkan justru malah semakin romantis. Anehnya Paco juga menunjukan ketidak niatannya dengan banyaknya dialog, <em>scoring</em>, adegan klise yang sebetulnya tidak perlu. Hasilnya <em>[REC]³</em> benar-benar diluar ekspektasi saya, diawal saya ingin Paco menyuguhkan muncratan darah, usus terburai, dan adegan-adegan <em>spontan</em> yang membuat jantung berdebar tapi faktanya adegan-adegan seperti itu tidak ada setengahnya dari total film. Ya, seperti yang sudah saya jelaskan diatas, sangat berbeda dengan Paco yang saya kenal di <em>[REC]</em> dan <em>[REC]<em>²</em></em>.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/rec32.jpg" alt="" /></p>
<p>Saya hanya bisa berfikir positif bahwa, Paco sengaja menurunkan tensi <em>[REC]</em> demi kepentingan sekuelnya nanti. Tapi menelaah cerita <em>[REC]³</em> secara keseluruhan saya pesimis bahwa seri ketiganya ini akan ada hubungannya dengan seri keempatnya nanti. Dan dengan berat hati saya simpulkan bahwa penurunan tensi yang begitu besar ini membuat <em>[REC]³</em> tampil dibawah ekspektasi saya. Semua ajakan-ajakan Paco melalu zombie-nya yang brutal seakan tidak ada apa-apanya jika melihat sebegitu besarnya <em>hype</em> yang dihasilkan dua seri sebelumnya. <em>Well</em>, segala penyuguhan sesuatu yang baru ini, memang terkesan aneh. Seperti bukan Paco yang biasanya. Tapi sebagai penonton jelas kita hanya bisa berspekulasi dan berharap bahwa penutup <em>franchise</em> <em>[REC] </em>nanti adalah yang terbaik.</p>
<p><em></em><em>[REC]³</em> merupakan yang terburuk. Sebuah penyuguhan sesuatu yang baru yang gagal. Pembantaian zombie yang terasa hampa akan semakin menjadi nilai <em>minus</em> tersendiri buat <em>[REC]³</em>. Saya memang tidak berekspektasi bahwa akan ada adegan pembantaian zombie besar-besaran. Karena yang ada dalam bayangan saya hanya teror yang mengerikan. Namun mungkin, dengan lebih mengksplotitasi zombie berikut dengan pembantaian akan menjadi formula baru yang menarik untuk <em>[REC]</em>. Secara keseluruhan, saya kecewa. Paco sudah seakan lupa cara menakuti penonton. Dan hilangnya gaya <em>mockumenter</em> ala dirinya buat saya tidak jadi masalah, yang jadi masalah adalah gagalnya Paco membangun tempo dan ritme yang teratur. Ditambah gagalnya Paco membawakan cerita <em>[REC]³</em> yang sebenarnya juga tidak seberapa. Ya, saya kecewa. Tapi tetap <em>excited</em> dengan lanjutannya, yang notabene menjadi penutup <em>frachise [REC</em>]</p>
<p><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/25.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/04/review-rec-genesis-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: Shame (2011)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/04/review-shame-2011/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/04/review-shame-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 16:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[3 tahun silam, Steve McQueen sempat menggemparkan publik maupun kritikus dengan karyanya yang berjudul Hunger. Tentu masih banyak oran-orang yang mengingat betapa derpresifnya karyanya tersebut. McQueen memang bukan sutradara senior yang dipuja-puja publik. Tapi lewat Hunger yang notabene merupakan film panjang pertamanya, McQueen sudah membuktikan bahwa dirinya layak disejajarkan dengan sutradara-sutradara kawakan Hollywood. Well, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/shame2.jpg" alt="" /></p>
<p>3 tahun silam, Steve McQueen sempat menggemparkan publik maupun kritikus dengan karyanya yang berjudul <em>Hunger</em>. Tentu masih banyak oran-orang yang mengingat betapa derpresifnya karyanya tersebut.<em></em> McQueen memang bukan sutradara senior yang dipuja-puja publik. Tapi lewat <em>Hunger</em> yang <em>notabene</em> merupakan film panjang pertamanya, McQueen sudah membuktikan bahwa dirinya layak disejajarkan dengan sutradara-sutradara kawakan <em>Hollywood</em>. <em>Well</em>, ada yang sama antara <em>Hunger</em> dengan <em>Shame</em>. Yup, keduanya sama-sama dibintangi Michael Fassbender. Jika di <em>Hunger</em> porsi Fassbender tidak cukup luas untuk membuktikan kualitas aktingnya, kini di <em>Shame</em>, McQueen sepenuhnya mempercayakan alur dan konflik cerita pada Fassbender yang didaulat untuk berduet dengan Carey Mulligan.</p>
<p>Sejak awal film bergulir, McQueen sudah menyuguhkan sesuatu yang tidak konvensional. Sebuah penyuguhan yang cerdas sekaligus berani. Film yang naskahnya ditulis oleh Abi Morgan dan Steve McQueen ini<em></em> bercerita tentang seorang pria <em>hyper sex</em> bernama Brandon Sullivan (Michael Fassbender) yang seperti tak ada keingingan untuk merubah dirinya. Hingga suatu saat adik perempuannya, Sissy Sullivan (Carey Mulligan) datang tanpa pemberitahuan. Keberadaan Sissy disana ternyata justru semakin merumitkan hidup Brandon, tapi dibalik rumitnya tersebut Brandon justru tersadar dan berbalik untuk mengubah hidupnya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/shame3.jpg" alt="" /></p>
<p>Depresif dan indah, Steve McQueen masih melestarikannya. Skenario yang dijalankan relatif pelan dengan penggalian karakter maksimal membuat alur indah ala McQueen berjalan sesuai ekspektasi. Tidak usah ditanya seberapa berani McQueen dalam meng-ekspose adegan, McQueen tak akan segan meng-ekspose adegan demi penggalian karakter yang maksimal. <em>Well</em>, memang tepat rasanya McQueen memilih Fassbender sebagai pemeran utama. Selain pandai memainkan mimik wajah, Fassbender juga sama layaknya McQueen, tak tanggung-tanggung dalam melakukan sesuatu. Jika McQueen dengan gagah mengeksploitasi adegan-adegan <em>sex</em> yang secara gamlang diperlihatkan, Fassbender membalasnya dengan totalitas akting yang mumpuni. Jadi wajar jika banyak yang heran mengapa Fassbender tidak masuk nominasi Oscar kemarin. Padahal dengan karakter yang sudah sedemikian tergali ditambah aktingnya yang juara sudah selayaknya paling tidak Fassbender dianugerahi nominasi Oscar.</p>
<p>Saya sama sekali tidak memasang ekspektasi besar pada Mulligan, tapi diluar dugaan, kelihaiannya memainkan situasi patut diacungi jempol. Dan <em>chemistry</em>-nya dengan Fassbender yang luar biasa pas. Benar-benar jenius Avy Kaufman sebagai <em>casting director</em> menyatukan kedua manusia ini kedalam satu film. Ya, kedua bintang ini memang bisa dibilang cukup melejit ditahun 2011 lalu. Fassbender yang bermain dalam <em>Jean Eyre</em>, <em>X-Men: First Class</em>, dan <em>A Dengerous Method</em>, yang ketiga meraih kesuksesan baik dari segi kritik maupun publik. Juga Carey Mulligan yang di 2011 lalu membintangi <em>Drive</em> yang benar-benar dicintai kritikus, baik dari filmnya maupun aktingnya yang mempesona berpartner dengan <em>Ryan Gosling</em>. Sekali lagi, sebuah penyatuan yang brilian antara Michael Fassbender dengan Carey Mulligan. Bravo!</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/04/shame4.jpg" alt="" /></p>
<p>Permainan karakter dari Steve McQueen saya akui benar-benar lugas. Hal-hal absurd yang dipertontonkan justru menjadi penjembatan ide-ide McQueen yang tidak bisa sepenuhnya diluapkan ke penonton. Juga ketika McQueen memainkan psikologi Brandon. Pendekatan lain juga diberikan McQueen untuk menjelaskan kondisi psikologis karakter. Akan semakin indah melihat keberanian McQueen menggali karakter yang dibalut narasi yang begitu kuat sembari menikmati iringan musik latar arahan Harry Escott. Percaya atau tidak, sejak awal Escott sudah menunjukan iringan musik pertanda psikologi seseorang yang sedang dilanda rasa depresi. Sebuah aspek plus tersendiri untuk <em>Shame</em>, melihat departmen akting yang terisi begitu pas ditambah dengan iringan musik yang luar biasa menyentuh hati. Ah, sulit memang menggambarkan <em>Shame</em> secara keseluruhan.</p>
<p>Buat saya salah, jika <em>Shame </em>termasuk kategori film yang tidak bisa dinikmati semua orang. Ya, bilang kita mengingat ratingnya adalah NC-17 yang artinya hanya orang-orang yang sudah 17 tahun keatas saja yang bisa menonton film ini. Mungkin ini juga yang menjadi faktor utama gagalnya <em>Shame</em> di Oscar ke 84 lalu. Tapi jika menilai dari cerita <em>Shame </em>tidak bisa dinikmati semua orang, itu salah. Kunci menikmati <em>Shame</em> adalah nikmati permasalahan yang ada. Steve McQueen akan membawa kita menuju skenario ala dirinya yang tak terbantahkan penuh dilema dan penyesalan. <em>Well</em>, <em>Shame</em> memang diisi oleh sebagian aspek teknis yang bisa dibilang independen. Hampir tak terlihat kemahalan <em>budget</em> yang dipamerkan, meski produksi <em>Fox Searchlight</em>, tapi tak jarang orang menobatkan <em>Shame </em>adalah sebuah karya <em>art house</em>. Kemenangan <em>Shame</em> diberbagai festival juga sekaligus membuktikan bahwa <em>Shame</em> bukan sembarang karya independen. <em>Shame</em> digarap dengan penuh keseriusan, baik dari segi narasi maupun akting. Tak ada satupun orang yang bisa menampik bahwa detil-detil adegan yang disuguhkan McQueen merupakan visual dari sebuah ide sederhana yang digarap dengan tetap melestarikan gaya penyampaian depresif ala Steve McQueen.</p>
<p><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/452.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/04/review-shame-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: Hi5teria (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/03/review-hi5teria-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/03/review-hi5teria-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 15:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Omnibus lagi. Tampaknya proyek Omnibus untuk saat ini memang sangat menggiurkan bagi para produser. Selain menyuguhkan premis yang berbeda-beda sebuah proyek Omnibus juga memiliki daya tarik tersendiri. Sebut saja Upi (Sutradara dari Radit dan Jani dan Serigala Terakhir) yang memproduseri Omnibus yang diproduksi oleh Production House besutan dirinya, Upi Production yang bekerja sama dengan Starvision. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilm.com/wp-content/uploads/2012/03/hi5.jpg" alt="" /></p>
<p>Omnibus lagi. Tampaknya proyek Omnibus untuk saat ini memang sangat menggiurkan bagi para produser. Selain menyuguhkan premis yang berbeda-beda sebuah proyek Omnibus juga memiliki daya tarik tersendiri. Sebut saja Upi (Sutradara dari <em>Radit dan Jani </em>dan <em>Serigala Terakhir</em>) yang memproduseri Omnibus yang diproduksi oleh <em>Production House</em> besutan dirinya, <em>Upi Production</em> yang bekerja sama dengan <em>Starvision</em>. Untuk saat ini Omnibus memang bisa dibilang secara tidak langsung menjadi ajang penyaringan sineas-sineas berbakat tanah air. Pun begitu pada <em>Hi5teria</em>. Lima sutradara yang memulai debutnya dengan lima cerita berbeda. Nama-nama baru seperti Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar dan Harvan Agustriansyah siap mengisi kelima segmen penuh mimpi buruk yang ada di <em>Hi5teria</em>.</p>
<p>Jelas berbeda jika kita membandingkan <em>Hi5teria</em> dengan Omnibus horror <em>fantasy</em> yang sempat rilis akhir tahun lalu, <em>FiSFIC</em>. <em>Hi5teria</em> menurut saya lebih condong kearah menakutkan. Sedangkan <em>FiSFIC</em> lebih kearah narasi. <em>Hi5teria</em> murni horror yang tujuannya sejak awal adalah menakutkan, berbeda dengan <em>FiSFIC</em> yang memiliki tujuan menyajikan sebuah cerita yang tidak biasa. Tapi sayangnya, kelima sutradara di <em>Hi5teria</em> ingin mencoba formula &#8212; yang entah sudah di targetkan sejak awal untuk serentak digunakan &#8212; yakni berupa sebuah cerita yang berada diluar jangkauan para penontonnya, atau bahasa enaknya <em>twist</em>. Maksudnya baik, tapi hasilnya gagal. Itu mungkin kalimat yang bisa menggambarkan kelima segmen <em>Hi5teria</em>. Cerdas memang naskah yang disajikan, tapi eksekusi yang tidak seberapa membuat <em>Hi5teria</em> tampil mengecewakan. Saya tidak akan membahas <em>Hi5teria</em> secara keseluruhan lebih lanjut karena akan saya bahas secara terperinci segmen per segmen. Enjoy!</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/pasar-setan.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>Pasar Setan </strong></em>| Directed by: Adriyanto Dewo</p>
<p style="text-align: left;">Sebuah konsep yang brilian melihat Adriyanto Dewo menggabungkan konsep <em>Pasar Setan</em>-nya dengan perjalanan pendaki gunung yang tersesat. 14 menit tersaji <em>Pasar Setan</em> tampil datar total. <em></em>Walaupun sejujurnya saya tahu niat Adriyanto Dewo ingin membangun atmosfer horror lewat sebuah misteri singkat<em>. </em>Tapi nyatanya, <em>Pasar Setan</em> kehabisan akal untuk menggali cerita. Dan bahkan penyampaian pesan terhadap judul, <em>Pasar Setan</em> dengan jalan cerita pun masih belum bisa dipahami secara keseluruhan. Pun hingga kita disuguhkan <em>ending</em>-nya yang <em>actually</em> di 3 menit terakhir sudah bisa saya tebak. <em>Overall</em> saya suka <em>ending</em>-nya. Tapi sekali lagi eksekusi penyampaian pesan kepada penonton seakan sangat pelit. Padahal melihat durasi yang lebih singkat dari segmen-segmen lainnya harusnya <em>Pasar Setan</em> bisa lebih baik memanfaatkan durasi yang ada.</p>
<p style="text-align: left;">Rate: <strong>2.5 / 5</strong></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/wayang-koelit.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Wayang Koelit</strong> | Directed by: Chairun Nissa</p>
<p style="text-align: left;">Ini juga konsepnya tidak kalah menarik. Sebuah perpaduan menarik antara budaya dengan bumbu horror. Jujur saya cukup <em>excited</em> dengan segmen yang satu ini. Saya berharap bisa dibuat merinding oleh Chairun Nissa dengan budaya wayang jawa yang konon memiliki ke-sakralan tersendiri. <em>Wayang Koelit</em> memiliki kelebihan berupa <em>creepy moment</em> tertentu yang mungkin hanya bisa kita saksikan di film horror yang berbalut budaya. Ada satu kesalahan yang masih saya pikirkan hingga saat ini di segmen <em>Wayang Koelit</em>, sepengetahuan saya, menonton wayang itu penonton tepat berada dibelakang dalang, bukan berada didepan layar seperti apa yang disuguhkan dalam segmen ini. Jelas kesalahan tersebut membuat saya cukup kecewa, entah karena kurangnya riset atau mungkin ada faktor lain. Juga, penarikan premis yang masih ambigu. Sama halnya dengan<em> Pasar Setan</em>, <em>Wayang Koelit</em> juga terlalu fokus di <em>ending</em>. Sehingga melupakan sebuah penarikan kesimpulan yang masih menggantung.</p>
<p style="text-align: left;">Rate: <strong>3 / 5</strong></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/kotak-musik.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kotak Musik</strong> | Directed by: Billy Christian</p>
<p style="text-align: left;">Luna Maya yang bermain dalam segmen karya Billy Christian ini memang paling menjadi sorotan ketimbang para pemeran lain yang bermain di keempat segmen lainnya. Billy memang tidak salah memilih Luna, penggambaran karakter berani, kuat, dan konsisten seakan begitu mudah dipahami. Pun begitu hingga Billy mengajak kita untuk semakin terjun kedunia seramnya. Karakter Farah yang diperankannya seakan terus tergali seiring jalan cerita yang juga dengan maksimal di gali Billy. <em>Creepy moment</em> yang terbilang berani coba terus ditampilkan Billy. Meski gagal membuat takut, tapi Billy berhasil menyuguhkan sebuah konsep yang sederhana yang dibawakan dengan penggalian cerita dan karakter yang mapan. <em>Kotak Musik</em> adalah satu-satunya segmen yang tidak ketergantungan dengan <em>ending</em>. Akhir memang bisa mengelabuhi, tapi dalamnya cerita yang bisa membuat penonton masuk kedalam ilusi ala Billy Christian bisa jauh lebih menghipnotis.</p>
<p style="text-align: left;">Rate: <strong>3.5 / 5</strong></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/palasik.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Palasik </strong>| Directed by: Nicho Yudifar</p>
<p style="text-align: left;"><em>Palasik</em> mungkin adalah sebuah legenda masyarakat yang sudah cukup diketahui banyak orang. Sutradara Nicho Yudifar, mencoba mengaplikasikan legenda tersebut kedalam naskah yang ada di filmnya. <em>Palasik</em> memang tergolong asik di menit-menit awal. Menyuguhkan kita sebuah misteri yang mebuat kita bertanya-tanya. Palasik memang memiliki naskah yang ideal untuk sebuah film berdurasi 21 menit. Jujur saya suka bagaimana Nicho Yudifar membawakan adegan demi adegannya kehadapan penonton. Tapi semua kejeniusan dalam naskahnya itu seakan sirnah melihat eksekusi di detik-detik akhir yang mengecewakan. Semua ke-natural-an yang dibangun Nicho sejak awal seakan sirnah ketika kita merasakan atmosfer horror yang ada. <em>Overall</em>, sekali lagi saya suka bagaimana Nicho Yudifar menyampaikan adegan demi adegannya ke penonton tapi, ada beberapa <em>scene</em> yang membuat saya &#8216;<em>ilfeel</em>&#8216;. Dan buat saya itu sangat menghilangkan potensi ketegangan.</p>
<p style="text-align: left;">Rate: <strong>2.5 / 5</strong></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/loket.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Loket</strong> | Directed by: Harvan Agustriansyah</p>
<p style="text-align: left;">Dulu sempat ketika saya berada di sebuah parkiran bawah tanah di sebuah mall dibilangan Jakarta, saya berfikir apa jadinya jika saya sendiri disini. Oleh karena itulah saya cukup penasaran dengan <em>Loket</em> karya Harvan Agustriansyah ini. <em>Set</em> yang sudah jadi mimpi buruk tersendiri buat saya seakan kian menakuti saya ketika, Harvan Agustriansyah membumbui <em>Loket</em> dengan sebuah misteri. Misteri yang pada akhirnya membawa kita pada akhir yang (lagi-lagi) <em>twisting</em>. Film horror memang tak selalu berkaitan dengan nalar kita. Harvan Agustriansyah coba menampik hal bahwa horror yang <em>logicless</em> juga bisa menakuti para penontonnya. Terbukti tahap per tahap yang dibawakan Harvan seakan memiliki nilai ketegangan tersendiri, dan tahap demi tahap itu disampaikan dengan baik pula. Hingga sampai diakhir, dengan pemecahan misteri yang tidak tanggung, saya bisa mengatakan bahwa <em>Loket</em> merupakan yang terbaik dari keempat segmen lainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Rate: <strong>3.5 / 5</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Overall Review:</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dengan rating yang sama antara <em>Loket</em> dan <em>Kotak Musik</em> dengan penuh pertimbangan akhirnya saya menetapkan bahwa <em>Loket</em> merupakan yang terbaik dari segmen lainnya, keduanya memang memiliki kelebihan masing-masing, begitu pun dengan tiga film lainnya. Masing-masing memiliki nilai positif tersendiri. Tapi dengan premis dan presentasi yang berbeda pastilah akan memberi penilaian yang berbeda-beda pada tiap orang. Secara tidak langsung juga kita akan menyadari bahwa seperti apakah selera horror kita. Secara keseluruhan memang yang saya keluhkan di <em>Hi5teria</em> adalah eksekusinya, terlebih pada eksekusi narasi di bagian akhir cerita. Mereka (kelima Sutradara) seakan sudah memiliki kesepakatan mengakhiri segmennya masing-masing dengan sebuah <em>twist </em>di akhir cerita yang berada diluar jangkauan penonton. Memang sebuah konsep yang menarik melihat sebuah film Omnibus Horror dengan lima segmen dan lima kejutan <em>ending  </em>yang berbeda. Tapi secara keseluruhan saya suka dengan<em> Hi5teria</em>, ini adalah sebuah bukti bahwa masih ada yang peduli dengan horror kita.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Overall Rating:</strong></p>
<p><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/3.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/03/review-hi5teria-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review: The Raid (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/03/review-the-raid-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/03/review-the-raid-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 05:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Gak semua polisi itu bisa dibayar!&#8221; demikian salah satu dialog Rama (Iko Uwais) yang masih terngiang dipikiran saya. The Raid memang bukan film yang memotret bagaimana kehidupan polisi kita, bahkan The Raid datang sama sekali bukan dalam misi kemanusian. Premisnya sederhana, ini bukan untuk pertama kalinya sebuah film menggunakan premis seperti ini. Assault on Precinct [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/theraid1.jpg" alt="" /><br />
&#8220;Gak semua polisi itu bisa dibayar!&#8221; demikian salah satu dialog Rama (Iko Uwais) yang masih terngiang dipikiran saya. <em>The Raid</em> memang bukan film yang memotret bagaimana kehidupan polisi kita, bahkan <em>The Raid</em> datang sama sekali bukan dalam misi kemanusian. Premisnya sederhana, ini bukan untuk pertama kalinya sebuah film menggunakan premis seperti ini. <em>Assault on Precinct 13</em> karya Jean-François Richet sudah lebih dulu melakukannya. Ya, premisnya hanya masuk, tangkap dan bawa keluar bosnya! Hanya itu. Jadi wajar jika ada yang mencaci <em>The Raid</em> jika melihat dari segi cerita. Tapi hanya orang yang memiliki selera aksi rendah yang mencaci <em>The Raid </em>secara keseluruhan.<br />
<span id="more-341"></span><br />
Film yang sebelumnya sudah terlebih dahulu diputar di INAFFF (Indonesian International Fantastic Film Festival) dan JAFF (Jogja Asian Film Festival) serta berhasil meraih penghargaan internasional seperti People&#8217;s Choice Award dalam ajang Toronto International Film Festival dan juga berhasil meraih Audience Award dan Dublin Film Critics Award dalam ajang Dublin International Film Festival ini bercerita tentang misi sebuah pasukan khusus menggrebek sebuah gedung yang konon merupakan sarang dari segala pelaku tindak kejahatan. Tama (Ray Sahetapy) adalah dalang dibalik layar-layar CCTV yang siap mengawasi pergerakan di setiap sudut gedung. Singkat cerita, Tama memiliki dua anak buah andalan, Andi (Donny Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhian). Yang siap kapan saja mem-<em>back up</em> jika seisi gedung kualahan melawan serbuan pasukan khusus yang dikomandoi oleh Jaka (Joe Taslim).<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/theraid2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Baru beberapa menit berlangsung saja, <em>The Raid</em> sudah menyuguhkan dentuman senjata yang seakan tak ingin berhenti. Gareth Evans (Sutradara <em>The Raid</em>) seakan ingin mengajak kita bermain dalam tempo awal. Bagi yang sudah mengikuti <em>buzz The Raid</em>, baik dari <em>trailer</em> ataupun dari sosial media, pasti sudah tahu bahwa <em>The Raid</em> bukanlah film yang menyuguhkan perang, tembak sana, tembak sini ala <em>Counter Strike</em>. Melainkan ada hal lain yang lebih dari itu, untuk apa itu silahkan tonton sendiri! Gareth memang tak macam-macam, pengenalan karakter dan cerita yang berjalan cepat dan tidak tergali dibayar tuntas oleh aksi yang sesekali membuat kita menahan nafas. Tempo yang terbangun baik juga merupakan salah satu alasan mengapa <em>The Raid</em> bisa sangat mudah dinikmati. Oh ya, serta peletakan komedi yang cerdas. Jangan lupakan itu. Sang Big Boss, Tama dengan gaya luguhnya bisa memutar 180 derajat suasana bioskop hanya dengan dialog singkat, mimik wajah, dan intonasi bicaranya. Whoa! Tak bisa dipungkiri, meski tak digali, tapi beberapa karakter di <em>The Raid</em>, bisa dengan mudah melekat. Entah apa yang dilakukan Gareth, tapi satu formula pasti, menyelipkan guyonan cerdas!<br />
<!--more--><br />
Ada kata lain yang bisa saya katakan selain <em>action</em> yang luar biasa dan jalan cerita yang buruk? Dua jempol untuk latar musik yang dibangun oleh  Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal. Benar-benar sukses meletakan setiap detil <em>scoring</em> dengan baik. Alhasil emosi penonton yang terarut pun akan terjaga sepanjang film. Dan ya, <em>scoring </em>arahan Aria dan Fajar ini juga memiliki andil besar dalam tetap konsistennya adegan laga demi laga yang tersaji, <em>scoring</em> yang disuguhkan pun seakan ingin ikut menyekap nafas kita sembari adegan pertarungan tetap berlangsung. Jujur saya heran, ketika mendengar kabar bahwa <em>scoring The Raid</em> akan dibuat ulang khusus buat <em>The Raid</em> yang tayang di Amerika sana. Kecerdasannya membuat latar musik dan menyisipkannya di adegan yang tepat<em></em> akan membawa kita menuju kesenangan ala Gareth Evans. Sungguh tak ada kata lain selain &#8220;Jenius&#8221; melihat kombinasi sempurna antara koreografi kelahi yang hebat ditempatkan pada tempo dan diisi oleh <em>scoring </em>yang tepat. Dan jadilah sebuah adegan demi adegan hebat yang tak bisa sembarang kita lihat di film <em>action </em>lain.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/theraid3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Selain ide cerita yang buruk dan seperti tak ada niat untuk dikembangkan <em>The Raid</em> juga memiliki kecenderungan berdialog yang buruk. Naskah yang ditulis oleh Gareth dan kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia tampil sangat buruk. Tapi Gareth beruntung memiliki pemeran sekaliugs koreografer seperti Iko Uwais dan Yayan Ruhian, mereka berdua tampil bak pahlawan bagi buruknya naskah <em>The Raid</em>. Ya, pertarungan demi pertarungan epik yang tersaji di <em>The Raid</em> memang tak lepas dari dua biang keladi utamanya itu, sebuah pertarungan yang tak segan-segan menyita nafas dan membuat kita kegirangan ingin merasakannya lagi. Oh ya, seperti yang sudah saja jelaskan diatas tadi, <em>The Raid</em> juga masih memberi ruang para penontonnya untuk bisa tertawa. Cara yang cerdas dari Gareth untuk tetap memanjakan penontonnya. Gareth yang cerdas mengatur tempo itu juga sudah berhasil mengunci kita kedalam gedung tua yang penuh akan kriminil. Ya, semakin menuju akhir, Gareth justru akan semakin membawa kita untuk masuk kedalam dunia aksinya. Semakin larut bersenang-senanga bersama Tama and the gank.<br />
<!--more--><br />
Baiklah, film yang baik memang film yang membuat penasaran sebelum menonton dan membayarnya dengan kepuasan seletelah menonton, itulah <em>The Raid</em>. Dengan deretan <em>action</em> tiada henti, plus koreografi menawan arahan Iko Uwais dan Yayan Ruhian akan menjadi sensasi tersendiri dalam <em>The Raid</em>. Lupakan sejenak buruknya naskah <em>The Raid</em>. Buruknya penyampaian dialog dan jalan cerita. Karena buat saya selama ada yang membuat film itu asyik dinikmati selain dari ceritanya itu bisa ditolerir. <em>Actually</em>, cerita di <em>The Raid</em> itu tidak buruk-buruk amat. Bahkan jika diibaratkan benang kemudian diulur cerita <em>The Raid</em> ini menyimpan banyak misteri yang tentunya akan semakin membuat kita <em>excited</em> menyambut sekuelnya nanti. <em>Overall</em>, penantian panjang terhadap <em>The Raid</em> akhirnya berakhir dengan pembayaran yang setimpal, tak ada kata lain selain &#8220;PUAS&#8221;.<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/01/45.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/03/review-the-raid-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BFN 2012: Postcards from the Zoo / Kebun Binatang (2012)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/03/kebun-binatang-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/03/kebun-binatang-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 06:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Sudah 50 tahun sejak Badai Selatan karya Sofia W.D. tidak ada lagi film Indonesia yang berhasil menembus Berlinale (Berlin International Film Festival) jadi, Betapa leganya saya sudah menonton film ini. Film yang berhasil menembus festival sekaliber Berlinale. Ya, Zoo karya Edwin ini memang sangat-sangat saya nantikan. Bukan hanya karena sudah go international, alasan  lain saya sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/kebunbinatang.jpg" alt="" /></p>
<p>Sudah 50 tahun sejak Badai Selatan karya Sofia W.D. tidak ada lagi film Indonesia yang berhasil menembus Berlinale (Berlin International Film Festival) jadi, Betapa leganya saya sudah menonton film ini. Film yang berhasil menembus festival sekaliber Berlinale. Ya, <em>Zoo </em>karya Edwin ini memang sangat-sangat saya nantikan. Bukan hanya karena sudah <em>go international</em>, alasan  lain saya sangat <em>excited</em> dengan film <em>feature</em> kedua Edwin ini adalah karena, seperti yang sudah-sudah. Edwin selalu bisa melestarikan gayanya. Lewat sentuhan audio-visual yang sesekali <em>heart touching</em>. Selalu bisa membawakan tema yang ia angkat dengan sangat imajinatif dan kompleks. Ah, saya benar-benar suka gaya tersebut. Meski diluar sana, cukup banyak yang mencaci gaya Edwin ini tapi, buat saya yang sudah jatuh cinta dengan Edwin sejak film-film pendeknya, sungguh terkesima dengan gayanya tersebut.<br />
<span id="more-331"></span><br />
Tidak seperti sebagian besar karya Edwin yang meletakan fokus sentralnya pada keluarga, meski jika direlasikan lebih jauh <em>Zoo</em> tetap memiliki keterkaitan dengan unsur keluarga. Bedanya, <em>Zoo</em> lebih banyak berbicara manis dan harmonis. Tidak seperti film-film pendahulunya yang lebih suram dan disfungsional. Lana (Ladya Cheryl) adalah seorang gadis polos yang ditelantarkan ayahnya di kebun binatang saat masih berusia 3 tahun. Hingga dewasa Lana dibesarkan di kebun binatang dan dikelilingi oleh hewan-hewan. Kedekatan antara Lana dan para hewan pun bak antara manusia dengan manusia. Lana begitu menikmati hidupnya di kebun binatang. Singkat cerita, kebahagian Lana di Kebun Biantang mulai terusik dengan hadirnya seorang pesulap berpakaian koboi yang lebih pantas kita lihat di film-film <em>Western</em> Hollywood tahun 40an, yang tak disangka ternyata kehadiran pesulap tersebut membuat Lana menyadari bahwa ada segelintir kehidupan lain di luar sana. Hingga akhirnya Lana ikut bersama pesulap tersebut, berkeliling dari tempat satu tempat ke tempat lainnya. Tiba-tiba sang pesulap hilang, tanpa alasan. <em>Well</em>, mungkin akhirnya ia sadar kalau kostumnya lebih layak di era 40an. Lana pun sendiri. Sampai akhirnya kesendirian itu membuat Lana sadar bahwa ada yang hilang dari dirinya. Ya, kebersamaan dengan hewan yang sudah menemaninya tumbuh besar merupakan alasan mengapa Lana kembali ke kebun binatang.<br />
<!--more--><br />
<img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/kebunbinatang2.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Ragunan tak pernah tampak se indah ini. Entah sudah berapa lama saya tidak mengunjungi tempat ini, tapi setelah menonton <em>Zoo</em>, jujur saya kembali ingin kesana. Ragunan seakan menjadi indah ketika sudah dipermainkan oleh imajinasi Edwin. <em>Well</em>, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, jika sebelumnya Edwin coba mengeluarkan buah pikiran lewat film perspekstif bertema keluarga yang disfungsi, di <em>Zoo</em>, Edwin lebih menekankan sebuah kekosongan bernama identitas. Lana hadir begitu saja, pun begitu pada karakter pesulap yang sudah datang dengan semena-mena pergi pun dengan semena-mena. Tapi manusia bernama Edwin yang baru saja memenangkan penghargaan Yang Talent Award dalam ajang penghargaan Asian Film Festival ini selalu bisa membuatnya tampil berkesan. Dengan imajinasinya itu ia bisa membuat baik Lana maupun sang pesulap tampil <em>memorable</em>. Sudah jadi ciri sepertinya Edwin meletakan adegan-adegan yang bisa membuat imajinasi atau visualisasi kita berjalan dengan sendirinya. Kita akan meng-improvisasikan apa yang Edwin suguhkan, tentunya dengan imajinasi kita masing-masing.<br />
<!--more--><br />
Dan lagi, meski sejujurnya saya suka dengan keberanian Edwin menyelipkan rasisme yang jika diamati lebih cerdas memiliki pesan moral pada <em>Babi Buta yang Ingin Terbang</em> tidak diselipkan lagi disini. Sebagai gantinya Edwin memberikan kita relasi yang sangat-sangat imajinatif antara manusia dengan hewan. Sejak awal Edwin sudah menunjukan bahwa filmnya ini bukan sekedar manusia yang memiliki hubungan erat dengan ekosistem disekitarnya. Melainkan hubungan yang mendalam antara manusia dan hewan. Edwin pun menyelipkan sebuah kisah dimana Lana bercita-cita atau berkeinginan untuk menyentuh perut jerapah, namun selalu terhalang dengan tulisan &#8220;Dilarang Menyentuh Hewan&#8221;. Ide ini sebenarnya terlintas dari keinginan Edwin sendiri, dan siapa sangka jika diaplikasikan kedalam bentuk audio-visual dengan gaya Edwin akan tampak emosional. Berbicara soal gilanya imajinasi Edwin, tak bisa lepas dari pendekatan romantiknya. Edwin selalu memiliki ide untuk memulai atau mengakhiri <em>scene</em>-nya. Ya, sebut saja sebut pemandangan unik ketika kita melihat <em>close-up</em> kulit gajah yang sedikit demi sedikit berubah warna ketika mulai tergerus air hujan, juga ketika Lana yang bermain-main disekitar kebun binatang dihiasi oleh hewan-hewan yang seakan ikut bermain di dalam kandangnya masinng-masing.<br />
<!--more--><br />
Ada kesamaan lain antar <em>Postcards From the Zoo</em> dengan <em>Babi Buta yang Ingin Terbang</em>. Mereka sama-sama dibuat Edwin dilematis. Bedanya <em>Zoo</em> lebih di dalam sebuah ruang yang lebih kecil. Berbeda dengan <em>Babi Buta yang Ingin Terbang</em> yang memiliki ruang sedikit lebih luas untuk mencakup besarnya permasalahan atau konflik yang ingin disuguhkan. Konflik di <em>Zoo</em> memang lebih kearah batin. Sebab karena itulah kita tidak usah terlalu menanggap bahwa <em>Zoo</em> merupakan film yang berani mengekspose sebuah masalah seperti <em>Babi Buta yang Ingin Terbang</em>. Premis yang disuguhkan pun relatif standar, tidak terlalu ringan namun tidak terlalu berat juga. <em>Overall</em>, memang tidak ada yang spesial dari cerita. Tapi dari segi pembawaan saya benar-benar suka bagaimana Edwin bisa menggambarkan kedekatan antara Lana dan para hewan. Semua kepolosan dan keluguhan Lana tampak berbeda jika sudah bermain dengan hewan. Ya, kedekatan Lana dengan para hewan yang sudah kearah batin itu seakan bisa disampaikan oleh Edwin dengan komunikatif dan efektif. Semua elemen yang mengisi kesunyian dalam kebun binatang seakan saling membantu untuk menampilkan kebun binatang yang ada dalam imajinasi Edwin.<br />
<!--more--><br />
<img class="aligncenter" src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/kebunbinatang3.jpg" alt="" /><br />
<!--more--><br />
Bagaimana pun filmnya, saya percaya bahwa Edwin selalu menyelipkan sebuah pesan mengenai perspeksi kehidupan. Di <em>Postcards from the Zoo </em>ini Edwin mencoba untuk mengartikan bahwa manusia dan hewan itu sebenarnya tidak jauh berbeda. Sesekali adegan tidak hanya diisi sebuah <em>shot</em> Lana yang tampak memperhatikan para hewan, namun sebaliknya. Edwin menyuguhkan beberapa <em>shot</em> langsung yang memperlihatkan para hewan sedang memperhatikan Lana. Edwin membuat rasa kemanusian kita lebih tinggi jika berada di kebun binatang ala dirinya. Menonton kebun binatang dan merasakan berada di kebun binatang ala Edwin memang begitu menyenangkan. Edwin menegur kita lewat pesan bahwa kita dan hewan itu sama-sama <em>displaced</em>. Para hewan disana jika kita refleksikan lebih jauh, itu bukan habitat asli mereka. Sama dengan pesan yang disampaikan Edwin lewat Lana. Lana yang terkesan <em>displaced</em>, karena tidak berada di habitat aslinya, mengingatkan kita untuk bertanya pada diri sendiri, &#8220;Apakah memang seharusnya kita ada disini?&#8221;. Banyak yang seharusnya tidak disini, itulah yang coba Edwin ekspresikan lewat <em>Postcards from the Zoo</em>.<br />
<!--more--><br />
Rasa cinta yang besar terhadap sinema. Menarik melihat Edwin memperlihatkan banyak adegan menonton. Lana bersama Pesulap yang berkeliling memperlihatkan kelihaian dikerumuni para manusia yang menonton mereka. Serta hubungan dua arah antara Lana dan hewan. Yang namanya kebun binatang itu pasti memiliki pengunjung, Edwin sesekali pun mencoba secara tidak langsung memperlihatkan bahwa pengunjung sedang menonton para hewan yang sedang bermalas-malasan dibalik kandang. Dan lagi, jika di cermati lebih jauh ternyata Edwin kembali memberi pesan, bahwa sebenarnya jika kita kebun binatang, bukan hanya kita yang menonton hewan. Hewan pun sebenarnya menonton kita. Ya, lewat caranya yang bak sangat mencintai sinema memperlihatkan banyaknya adegan menonton, Edwin berhasil menyelipkan pesan bahwa secara tidak langsung kita sudah melupakan banyak kehidupan disekeliling kita.<br />
<!--more--><br />
Ya, kalau bukan karena imajinasinya itu, mustahil Edwin bisa membuat kebun binatang ala dirinya tampil seindah ini. Setiap koridor yang memperlihatkan ada kehidupan lain disekitar kita membuat saya seketika terhening membaca pesan yang coba disampaikan Edwin. Eksplorasi Edwin yang tidak kalah ambisiusnya dari <em>Babi Buta yang Ingin Terbang</em> membuat semua unsur di <em>Postcards from the Zoo</em> tampil seimbang. Level emosi dan korelasi antara manusia dan hewan yang begitu tinggi membuat <em>Postcards from the Zoo</em> tampil sangat mudah dicintai dan dinikmati. Akting dari 2 tokoh utama, terutama dari Ladya yang seakan bisa membuat para hewan ikut berakting juga. Juga Nicholas yang sudah melakukan tugasnya dengan baik, menjadi media penyampai pesan Edwin kepada penonton. <em>Well</em>, <em>Postcards from the Zoo</em> sudah berhasil menjalankan segala elemennya dengan baik, sarat akan emosi yang terbangun lewat pesan mengenai perspeksi kita terhadap kehidupan sehari-hari. <em>Well done, Edwin. It&#8217;s better than you before</em>!<br />
<!--more--><br />
<img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/02/4.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/03/kebun-binatang-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BFN 2012: Si Mamad (1973)</title>
		<link>http://catatanfilm.com/2012/03/review-si-mamad-2012/</link>
		<comments>http://catatanfilm.com/2012/03/review-si-mamad-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 03:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anggara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatanfilm.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Dalam program ‘Membaca Kembali Karya-Karya Sjuman Djaya’ yang diusung oleh Kineforum bekerjasama dengan Forum Lenteng dalam rangka Bulan Film Nasional menyambut Hari Film Nasional yang akan jatuh tanggal 30 Maret mendatang, saya menyempatkan diri untuk menonton salah satu mahakarya dari Sjuman Djaya, Si Mamad. Ya, film yang sempet berganti-ganti judul ini, dari mulai Matinya Seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img src="http://catatanfilmimg.files.wordpress.com/2012/03/mamad.jpg" alt="" /><center></center></center><br />
<strong></strong><br />
Dalam program ‘Membaca Kembali Karya-Karya Sjuman Djaya’ yang diusung oleh Kineforum bekerjasama dengan Forum Lenteng dalam rangka Bulan Film Nasional menyambut Hari Film Nasional yang akan jatuh tanggal 30 Maret mendatang, saya menyempatkan diri untuk menonton salah satu mahakarya dari Sjuman Djaya, Si Mamad. Ya, film yang sempet berganti-ganti judul ini, dari mulai Matinya Seorang Pegawai Negeri, Ilalang, sampai akhirnya Renungkanlah si Mamad. Hingga sampai saat ini lebih dikenal dengan judul Si Mamad saja. Film yang diadaptasi dari cerita pendek karangan penulis Rusia, Anton Chekhov, yang berjudul Matinya Seorang Pegawai Negeri, sebuah kisah tentang Ivan Dmitritch Tchervyakov ini memang tergolong berbeda dari film-film Sjuman lainnya. Si Mamad jauh lebih terlihat ceria dibanding film-film Sjuman lainnya. Meski pada akhirnya kesan dilema dan suram tetap melekat.<br />
<span id="more-324"></span><br />
Tak bisa di pungkiri Sjuman Djaya bisa dikatakan sebagai salah satu pionir kesuksesan film Indonesia. Dengan hadirnya film-film ala Sjuman, era 70an perfilman kita pun jadi lebih berwarna. Ya, itu merupakan potret kecil dari indahnya perfilman kita di era 40 tahun silam. Kembali ke Si Mamad, film yang menjadi jawara Festival Film Indonesia tahun1974 salah satunya dalam kategori film terbaik ini, bercerita tentang seorang pegawai negeri bernama Mamad. Yang tak bisa menahan hasratnya untuk korupsi kecil-kecilan mengingat ia sedang menghadapi detik-detik menuju kelahiran anak ketujuhnya. Tapi ternyata perbuatan korupsi kecil-kecilannya itu justru malah menyiksa dirinya sendiri, apalagi ketika atasannya (Aedy Moward) tahu bahwa Mamad sering kecil-kecilan. Rasa resah terus menghantui Mamad, karena tak kunjung bisa menjelaskan perbuatannya. Puncaknya, Mamad dipecat dan setelah dipecat pun Mamad belum juga lega karena belum bisa menjelaskan apa yang sebenarnya. Dan hingga Mamad meninggalpun ia masih belum bisa menjelaskan tindakan tidak terpujinya itu kepada mantan atasannya.<br />
<!--more--><br />
Cukup simpel tema yang diangkat, tapi Sjuman mampu membawakannya dengan gayanya sendiri. Komedi tragis yang sarat akan pesan moral. Naskah yang dibesut Sjuman sendiri itu pun tampak begitu menyenangkan jika sudah dibawakan dengan gaya suramnya. Benar-benar mudah dicintai. Sama sekali tidak sulit mencintai Si Mamad, meski tergolong klise namun karakter — yang alhamdulillah pemerannya lumayan saya kenal– dan ceritanya cukup membaur dengan sempurna. Tidak banyak memang film-film Sjuman yang sudah saya tonton. Mungkin bisa dihitung dengan 1 tangan. Tapi sejauh ini Si Mamad memanglah yang terbaik. Sungguh saat yang tepat untuk bernostalgia dengan gaya penyutradaraan sang maestro, Sjuman Djaya.<br />
<!--more--><br />
Dari departmen akting pun tak ada yang minus. Mang Udel dengan Aedy Moward seakan memiliki chemistry tersendiri. Terutama Mang Udel, ketika satu screen dengan Aedy, performanya hampir mendekati sempurna. Apalagi ketika ia harus memasang mimik muram pertanda menyesal. Ah, emosi penonton pun ikut terlibat. Sangat jarang saya menemukan klasik seperti ini. Sjuman Djaya memang terkenal dengan gayanya yang tidak setengah-setengah dan itulah yang saya suka. Tak setengah-setengah juga dalam mengangkat tema. Begitu cantiknya perpaduan naskah yang ia tulis dengan buku karya Anton Chekhov. Yap, cerita dan akting dalam Si Mamad memang salah satu yang terbaik pada eranya. Serta para pemeran pendukung lain seperti Rina Hassim dan Ernie Djohan yang tidak kalah membantunya dalam proses pembauran cerita dengan atmosfer komedi tragis ala Sjuman Djaya. <em></em><br />
<!--more--><br />
<em>Si Mamad </em>memang bukanlah film yang lucu karena bakat melawak seorang Mang Udel. Adalah kisah yang dibawakan Mang Udel itu sendiri yang akan sesekali membuat kita tertawa. Kisah tentang seorang manusia yang sedang menghadapi ketidak singkronan dirinya dengan perubahan zaman. Itulah memang yang seharusnya kita tertawakan, tapi tidak lantas membangun nuansa humor dengan mengandalkan cerita, Sjuman Djaya juga sukses mengharu biru kan suasana lewat penggalian karakter Mamad yang sempurna. <em>Si Mamad</em> adalah film komedi yang penuh dengan pesan. Lewat karakter Mamad yang seakan tersesat di masa perkembangan zaman. Sjuman Djaya berhasil mencampur adukan emosi penonton. Akting <em>all out</em> Mang Udel dalam film memang layak diapresiasi sebagai aktor terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 1974. Ya! Satu lagi film Indonesia yang patut kita lesatarikan!<br />
<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatanfilm.com/2012/03/review-si-mamad-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

