Meraih 2 nominasi Golden Globe (Best Motion Picture – Drama dan Best Scoring) tentu sekilas akan melonjakkan ekspektasi kita. Sedikit menggambarkan bahwa War Horse adalah kisah antara manusia dan kuda yang diiringi latar musik yang sendu. Memang bukan hal baru mengawinkan pribadi manusia dan hewan. Bahkan ini terbilang formula klasik. Tapi tentu akan berbeda jika sutradara sekaliber Steven Spielberg yang melakukannya. Dengan durasi yang relatif panjang kita akan diisi dengan adegan kombinasi sempurna antara perang dan rasa cinta manusia terhadap kuda.
Albert Narracott (Jeremy Irvine) adalah anak dari Ted Narracott (Peter Mullan) dan Rose Narracott (Emily Watson), seorang petani di daerah pedalaman Inggris, Devon. Suatu hari Ted melelang sebuah kuda dengan harga yang cukup tinggi, sebetulnya tidak sebanding dengan profesinya saat ini. Kudang yang satu ini tidak bisa membajak yang notabene berarti tidak bisa membantu Ted dan Rose. Tapi disisi lain anak mereka Albert justru sangat menyayangi kuda bernama Joey ini. Dan hingga Ted kembali menjual Joey hingga diikut sertakan dalam perang, Albert masih terus berharap Joey kembali disampingnya. Dengan segelintir harapan itulah Albert mencoba bahkan nekat ikut perang walau hukum mengatakan umur Albert belum cukup untuk ikut serta dalam perang.

War Horse adalah film yang indah, sejak awal. Sejak menit bahkan detik pertama film ini berlangsung saya sudah yakin bahwa War Horse adalah film yang indah.. Menjual keindahan latar belakang desa kecil di Inggris. Tak lantas hanya indah di setting, War Horse juga mengizinkan kita melihat dinginnya perang antara Inggris dan Jerman secara natural. Tak bisa dibohongi, bukan hal yang sulit mencintai War Horse, dengan segala kenaturalannya kita akan sangat mudah dipikat oleh rasa cinta manusia terhadap kuda. Perjalanan menemukan cinta sejati, meski terhadap hewan tapi Steven Spielberg mampu membuatnya tampak seperti manusia pada umumnya. Ya, Steven Spielberg memang hebat mampu membuat hewan berkaki empat ini tampil didepan layar layaknya berkomunikasi. Dengan bahasa tubuhnya, meski memaksa kita berspekulasi tapi faktanya Spielberg mengemas permasalahan kecil ini dengan sangat jenius dan.. Mudah dicerna.
Tak heran kenapa War Horse bisa masuk nominasi Golden Globe dalam kategori Best Score karena memang sepanjang film kita terus disuguhkan latar musik yang sangat mencolok. Menurut gw pribadi intensitas scoring di film ini terlalu sering. Dan sesuatu yang berlebihan sudah pasti tidak baik. Itulah War Horse di adegan yang tidak memerlukan scoring pun kita dipaksa mendengarkan iringan biola bernada sendu yang menuntut kita untuk merasakan apa yang karakter rasakan. Ya, untungnya Spielberg adalah Spielberg yang tak pernah kehilangan kehebatannya mengeksekusi setiap gambar. Meski dengan rentetan score yang terkadang menggangu tapi Spierlberg mampu menutupinya dengan adegan-adegan natural yang ada di film ini.

Screenplay goresan Lee Hall dan Richard Curtis juga turut serta membuat War Horse tampil se-natural ini. Tapi War Horse bukan tampil tanpa hambatan, durasi serta konflik yang terlalu diperpanjang membuat ekspektasi saya terhadap film ini sedikit menurun. Seringkali penonton dibuat tertidur pulas melihat konflik panjang yang ada. Untung saja masih diselamatkan adegan perang yang membahana, ya gak bisa dipungkiri karena perang juga kita bisa dengan maksimal merasakan klimaks setelah dua setengah jam melewati cerita yang cukup panjang. Sebenarnya rumit sih enggak cuma terkadang gw ngerasa cerita yang harusnya tidak terlalu panjang justru dipaksa panjang.
Ya, dibalik kecacatannya War Horse masih bisa dikategorikan film bertema manusia dan hewan yang epik. Dengan sensasi perang yang dibaliknya menduetkan kisah dramatis antara manusia dan kuda. Natural dan indah.. Well, hanya di War Horse karya Steven Spielberg kita bisa merasakannya, durasi yang sebegitu panjang akan tidak berasa berlalu jika kita menikmatinya. Dengan segala ke-klasikannya juga War Horse bisa dengan mudah memikat hati penontonnya. Dari mulai alur hingga bahasa tubuh sang hewan yang ambigu.









