23rd Jan2012

Review: The Descendants (2011)

by Anggara

Nama George Clooney memang terbilang cukup beken di tahun 2011 lalu. Mengembalikan semangat lama dengan aktingnya yang khas. Meski hanya bermain di dua film namun terbukti kedua film itu mampu bersaing ditangga box office Hollywood, bahkan mampu bersaing juga diranah penghargaan kelas A. Setelah puas dengan menjadi kandidat orang nomer satu di Amerika dalam aktingnya di The Ides of March. Kini di The Descendants ia harus berkutat dengan peliknya masalah yang dihadapinya, tidak kalah pelik memang dari rumitnya politik Amerika, namun kini kita bisa lebih mudah mengerti dan memahami permasalahan yang Clooney rasakan. Diangkat dari novel berjudul sama karya Kaui Hart Hemmings dan ditulis naskahnya oleh Alexander Payne, Nat Faxon dan Jim Rash. Payne disini juga sekligus duduk dibangku sutradara, duduk untuk kesebelas kalinya di kursi sutradara. Ya, atmosfer keberhasilan Payne dalam film Sideways memang masih terasa.

Matt King (George Clooney) adalah seorang konglomerat yang memiliki puluhan hektar tanah warisan di Hawaii. Namun disisi lain King harus menerima kenyataan bahwa istrinya, Elizabeth King (Patricia Hastie) harus koma akibat kecelakaan speedboat yang menimpanya. Harapan hidup Elizabeth sendiri tinggal setipis tisu. King yang sebelumnya memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya pun kini harus disibukan dengan mengurus kedua buah hatinya Alexandra dan Scottie King (Shailene Woodley dan Amara Miller). Tapi dibalik itu semua King justru menyadari bahwa ada segelintir fakta yang ia belum tahu karena terlalu lama menghadapi masa-masa sibuknya. Dan kini King mencoba sedikit demi sedikit mengait fakta tersebut sembari terus bertahan menghadapi cobaan dan mengurus kedua buah hatinya.

The Descendants memang bercerita tentang kesedihan dan dilema. Tapi tidak mutlak kita akan bersedih-sedih melihatnya, meski itu merupakan esensi dari film ini sekalipun. Nama besar Clooney yang kembali mencuat karena aktingnya di film ini tampaknya tidak perlu diragukan lagi. Clooney benar-benar tahu apa yang Payne dan penonton inginkan. Saya benar-benar merasakan akting Clooney secara natural. Setiap detiknya Clooney didepan kamera setiap detik itu juga kita bisa merasakan emosi yang Clooney rasakan. Tidak ketinggalan peran-peran pendukung lain seperti Nick Krause dan Beau Bridges, meski porsinya tidak sebesar Clooney tapi perlu diakui, hadirnya mereka mampu semakin menghidup dan mendramatiskan cerita. Tanpa perlu susah payah hanya dengan screenplay karya trio Payne, Faxon dan Rush serta saling mengisinya seluruh jajaran cast satu sama lain, tanpa terkecuali.. Sepanjang film, sepanjang cerita konflik mendera, Payne tidak pernah kehabisan ide mengkaraterisasi dengan sempurna pemain yang ada. Ya, itu baru namanya kolaborasi yang sempurna.

Payne memang sudah cukup dikenal di karya-karya sebelumnya seperti Election (1999), About Schimdt (2002) dan Sideways (2004). Tapi dari 3 judul tersebut baru Sideways lah yang sudah saya tonton, film yang mengantar dirinya meraih Piala Oscar 2005 dalam kategori Best Writing, Adapted Screenplay. Ya, piala itu sudah cukup menyimpulkan bahwa Payne adalah penulis sekaligus eksekutor sebuah motion picture yang hebat. Ini kembali terbukti di film kesebelasnya, di The Descendants ini Payne terlihat sama sekali tidak menyia-nyiakan durasi yang ada. Payne seperti tidak ingin melihat penontonnya terlalu lama dan bosan melihat perjuangan seorang ayah menjadi single fighter mengurus kedua buah hatinya yang ‘bengal’. Ya, sebagai seorang pencerita yang hebat Payne juga mampu mengubah sebuah kemasan film yang diadaptasi dari novel berisikan kisah sedih penuh dilema yang dikolaborasikan dengan screenplay ala dirinya dengan Faxon dan Rush menjadi sebuah tontonan yang asyik dan tidak membosankan.

Well.. The Descendants memang bukanlah tipikal film yang mudah dicintai namun mudah dilupakan juga, scoring khas Hawaii masih setia bersenandung di telinga saya. Ya, dibalik semua kesedihannya itu The Descendants adalah film yang masih bisa memanjakan penontonnya terlepas dari briliannya akting Clooney dan indahnya skenario. Keindahan Hawaii yang seringkali disorot membuat kita sejenak melupakan euforia kejamnya dunia nyata dan terpaku melihat tontonan spektakuler arahan Alexander Payne. Dan dibalik keseriusannya itu The Descendants juga tidak jarang membawa penontonnya menikmati candaan klasik yang dibawakan pelakunya. Seperti tidak ada celah memang melihat The Descendants sangat mudah memikat hati penontonnya, dari mulai akting hingga setting Alexander Payne sama sekali tidak ada yang berlebihan pada apa yang ia arahkan. Buat saya pribadi hampir semua aspek di film ini tampil pas.

Ya.. The Descendants sebagai salah satu kandidat yang paling di jagokan di Oscar nanti memang tampil tidak mengecewakan. Sekarang saya sudah bisa membuktikan akting Clooney yang menuai banyak pujian dari berbagai penghargaan serta kritikus film. Juga naskah garapan Payne, Faxon dan Rash yang begitu kompleks memikat hati penontonnya. Tanpa harus bersusah payah menonjolkan dilema dan kesedihan yang ada Payne sudah berhasil mengeksekusi sebuah cerita yang kompleks kedalam sebuah tontonan berdurasi 115 yang sama sekali tidak mengizinkan penontonnya untuk merasa bosan. That’s all! Well done Alexander Payne!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>