Review: The Artist (2011)
Bagi kalian yang setia mengikuti pergerakan award season tahun ini, pasti sudah tidak asing dengan film yang satu ini. Yap, The Artist, film bisu yang mendulang begitu banyak pujian dan penghargaan. Meski hanya menjual film yang hanya terdiri dari dua warna, plus audio yang hanya iringan musik besutan Ludovic Bource, The Artist tetap mampu bersaing dengan film-film berbudget besar. Sebuah kemunduran zaman yang luar biasa. Itulah kalimat yang dapat menjelaskan bagaimana The Artist, bagaimana tidak. Disaat berbagai production house sibuk mengerjakan proyek megah bernilai puluhan juta dollar, The Artist justru hadir dengan mengembalikan film ke esensinya semula yakni bercerita. Memang secara komersial The Artist bukanlah film yang bernilai, tapi secara seni, The Artist adalah sebuah masterpiece.
George Valentin (Jean Dujardin) adalah seorang aktor film bisu yang sedang naik daun, hampir setiap film yang ia bintangi meraih kesuksesan. Tapi masalah hadir ketika publik sudah mulai meninggalkan film bisu dan beralih ke film yang bisa bicara. Disisi lain, hadir seorang bintang baru, seorang wanita yang tiba-tiba melonjak karirnya Peppy Miller (Bérénice Bejo). George yang tetap kekuh mempertahankan keindahan film bisu akhirnya mulai ditinggalkan. Berjuang membuat dan memproduksi film sendiri ternyata hanyalah sia-sia. Kini masyarakat jauh lebih mencitai film yang bisa berkomunikasi dengan penontonnya.

Sebagai film bisu, The Artist jelas dituntut untuk ekstra memperhatikan emosi serta pemahan penonton terhadap cerita. Dan Michel Hazanavicius sudah berhasil melakukannya. Sutradara sekaligus penulis di film bisu ini berhasil membuat penonton tetap paham dan tertarik meski hanya dengan balutan dua warna yang klasik dan kusam. Dibalik penyampaiannya yang klasik, The Artist juga memiliki aspek teknis yang memukau, hampir tidak ada celah yang membuat The Artist tampil buruk. Ya, The Artist memang bukanlah film bisa dinikmati semua orang, menonton The Artist itu sama saja dengan kita melihat satu setengah jam orang ‘gagu’ mencoba mengatakan apa yang ia rasakan. Tak jarang memang The Artist membuat kita malas bahkan mengantuk saat menontonnya. Tapi faktanya jika kita menikmati The Artist sepenuhnya, sejenak melupakan film yang penuh visual effect, The Artist akan tampil jauh lebih menarik.
Jelas sebuah film bisu sangat mementingkan kualitas akting didalamnya. Aktor/aktris dituntut untuk bisa menguasai emosi penonton lewat mimik wajah yang mereka suguhkan. Dan Dujardin dan Bejo sudah sangat baik melakukannya. Memainkan skenario garapan Hazanavicius dengan brilian. Meski tidak menyebutkan sepatah kata pun tapi Dujardin dan Bejo sudah bisa menyampaikan karakterisasi ala Hazanavicius lewat bahasa tubuhnya yang indah. Dan sangat tepat juga untuk Hazanavicius menempatkan Dujardin dan Bejo dijajaran cast utama. Mereka benar-benar eye-cathy dihadapan penonton. Benar-benar mampu mengisi kekosongan di film bisu plus hitam putih ini.

Ya, tak bisa di bohongi, selain akting dan naskah sebuah film bisu juga dituntut untuk memiliki latar musik yang mumpuni. Dan seorang Ludovic Bource sudah berhasil menaklukan hati penonton lewat iringan musik besutannya yang setia menyampaikan emosi di setiap adegannya kepada penonton. Composer berambut kriting ini mampu menampilkan sebuah iringan musik klasik khas tahun 20-30an yang sudah sangat akrab di telinga. Meski berbau tua tapi faktanya scoring ala Bource tetap mampu terdengar indah dan modern. Hingga 100 menit film ini berlangsung scoring besutan Bource ini setia mendampingi kita mengatur kadar emosi di tiap bagian film, berhasil membuat film dengan konsep klasik namun dikemas dengan modern ini tampil begitu emosional.
Siapa yang mengira bahwa The Artist adalah sebuah bentuk kecintaan seseorang terhadap film bisu, hampir di setiap adegannya kita akan disuguhkan momen-momen klasik yang hanya bisa kita saksikan film-film era tahun 30an. Well, The Artist memang sebuah bentuk apresiasi yang sangat indah. Hazanavicius benar-benar tahu apa selera penonton. Hazanavicius mampu membalut sebuah film dengan tema klasik dengan asyik dan modern. Juga dengan balutan sinematografi arahan Guillaume Schiffman yang sepanjang film senantiasa mewakili keindahan di setiap frame-nya. Ya, sekarang saya tahu kenapa banyak sekali kritikus yang memuji film bisu ini. The Artist memang bisu tapi faktanya dengan mimik dan gaya bahasa para pemerannya kita dibuat tetap mampu berkomunikasi sepanjang 100 menit lebih. Setiap aspek di The Artist juga mewakili keindahan film-film bisu yang dulu memang booming. Mampu mengemas sebuah perwakilan zaman dengan tidak membosankan.

