Bagi kalian yang setia mengikuti pergerakan award season tahun ini, pasti sudah tidak asing dengan film yang satu ini. Yap, The Artist, film bisu yang mendulang begitu banyak pujian dan penghargaan. Meski hanya menjual film yang hanya terdiri dari dua warna, plus audio yang hanya iringan musik besutan Ludovic Bource, The Artist tetap mampu bersaing dengan film-film berbudget besar. Sebuah kemunduran zaman yang luar biasa. Itulah kalimat yang dapat menjelaskan bagaimana The Artist, bagaimana tidak. Disaat berbagai production house sibuk mengerjakan proyek megah bernilai puluhan juta dollar, The Artist justru hadir dengan mengembalikan film ke esensinya semula yakni bercerita. Memang secara komersial The Artist bukanlah film yang bernilai, tapi secara seni, The Artist adalah sebuah masterpiece.
(more…)
Find us on Facebook
-
Recent Posts
Recent Comments
- Belaaa on Review: Garuda di Dadaku 2 (2011)
- Anggara Putra on Review: A Separation (2011)
- rasyid on Review: A Separation (2011)
- mustika maulidina on Review: Garuda di Dadaku 2 (2011)
- Anonymous on Review: The Ides of March (2011)
Archives
Meta





















